Sunday, April 3, 2016

Cerita Monbukagakusho #10 - Persiapan Keberangkatan dan Orientasi

Waktu rasanya belalu begitu cepat. Tak terasa 11 bulan hampir berlalu sejak saya mengirimkan dokumen aplikasi beasiswa Monbusho ke kedutaan besar Jepang pada April tahun lalu.

Setelah pengumuman akhir seleksi beasiswa, saya mulai disibukkan dengan berbagai hal untuk mempersiapkan keberangkatan ke Jepang awal April nanti. Banyak pelajaran yang saya dapatkan selama masa-masa persiapan ini. Awalnya, saya beranggapan kalau sekolah ke luar negeri itu lebih banyak urusannya dengan masalah teknis seperti beasiswa atau ujian masuk ke universitas. Belakangan, saya mulai sadar kalau banyak hal lain yang (lucunya) nggak ada hubungannya dengan sekolah yg harus disiapkan sebelumnya.

Sekedar tips buat anda yang ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri: lebih baik kejar cita-cita tersebut sebelum anda berkeluarga. Saya tidak bilang kalo yg sudah berkeluarga tidak dianjurkan sekolah lho ya, cuma siap-siap saja dengan berbagai hal, tetek bengek yang harus diselesaikan sebelum anda berangkat, misalnya : apakah istri/anak juga ikut dengan anda ? Bagaimana status pekerjaan istri (bila bekerja) dan sekolah anak bila mereka ikut dengan anda ? Dll dll. Sekolah ke luar negeri itu menurut saya (kasarnya) ibarat perjudian, terutama dalam hal karir dan keluarga. Jadi, sebaiknya diskusikan dulu dengan matang bersama keluarga sebelum anda memutuskan melanjutkan sekolah ke luar negeri.

Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan berkunjung ke Jepang selama dua minggu pada bulan Januari lalu, untuk mengikuti workshop di Tokyo. Kesempatan itupun saya gunakan untuk berkunjung ke kampus Todai di Hongo, Tokyo untuk berdiskusi dengan staf administrasi di sana, terutama untuk masalah tempat tinggal. Ternyata benar kata orang-orang, kalo memperoleh tempat tinggal di Tokyo itu susah ... dan MAHAL. Akhirnya saya putuskan untuk menggunakan akomodasi yang sudah disiapkan kampus, dan berangkat ke Jepang sendiri dulu, lalu istri saya menyusul 1-2 bulan kemudian. Senangnya, saya juga sempat bertemu dengan sensei (professor) saya dan melakukan diskusi mengenai rencana riset sesampainya di Jepang.


Februari awal - pertengahan, saya kembali sibuk dengan pekerjaan di kantor. Saya baru mulai mengurus ijin tugas belajar (karena PNS) pada minggu ketiga Februari. Proses perijinan ini pada dasarnya juga mudah, namun memakan waktu. Pada saat yang sama kedutaan besar Jepang mulai memproses persiapan keberangkatan, mulai dari visa sampai tiket pesawat. Penerima beasiswa diminta menyerahkan paspor dan menandatangani PLEDGE penerima beasiswa monbusho. Pledge ini semacam perjanjian yang menyatakan kalo penerima beasiswa akan tunduk pada peraturan yang ditetapkan pemberi beasiswa.



Maret awal, saya mulai menyelesaikan masalah non administratif di kantor yang berhubungan dengan pekerjaaan, misalnya share pengetahuan kepada teman-teman yang nantinya akan menggantikan posisi pekerjaan saya. Agak sedih memang, melihat pekerjaan yang selama ini menjadi bidang keahlian saya akan di-handle orang lain, tapi ya memang seharusnya begitu. Harus ada regenerasi bila ingin organisasi tetap bisa berjalan dengan baik, dan ini harus jadi pelecut kita agar bisa menjadi lebih baik lagi ke depannya. Seperti yang saya bilang sebelumnya, sekolah ke luar negeri itu ibarat perjudian dalam hal karir dan keluarga. Kalau tidak siap, ya nggak usah sekolah aja.

Maret pertengahan, saya dan istri mengambil cuti hingga akhir bulan untuk mudik, menghabiskan waktu dengan keluarga di Balikpapan dan Lamongan.


Maret akhir, semua masalah perijinan (visa, tugas belajar) selesai, dan orientasi penerima beasiswa monbusho diadakan pada tanggal 31 Maret. Walaupun orientasi ini sifatnya tidak wajib dihadiri, tapi menurut saya sangat penting untuk persiapan sebelum berangkat. Kita bisa bertemu dengan sesama teman penerima beasiswa, para professor pewawancara ketika seleksi, para staff kedubes yang selama ini membantu masalah administrasi beasiswa dan tentu saja bapak duta besar Jepang di Indonesia. Momen yang paling ditunggu adalah prosesi pelepasan penerima beasiswa oleh bapak dubes dan foto bersama.

 
Selama ini saya hanya melihat prosesi tersebut melalui website ataupun blog penerima beasiswa sebelumnya, dan selalu berandai-andai kalau suatu saat bisa menjadi bagian dari penerima beasiswa yang ada dalam foto tersebut. Jadi rasanya luar biasa senang dan bersyukur ketika akhirnya wajah saya bisa nampang juga di foto untuk prosesi yang sama. Selesai acara orientasi, para penerima beasiswa berpamitan, sambil menggumamkan kata yang biasa diucapkan para penerima beasiswa sebelumnya: "Sampai ketemu di bandara!".

Dengan selesainya acara orientasi, usai pula salah satu babak penting dalam hidup saya. Babak yang berjudul: "Mengejar beasiswa ke luar negeri", yang memakan waktu 10 tahun lebih, sejak saya lulus kuliah di Bandung. Kalau mengingat kegagalan-kegagalan saya sebelumnya, rasanya masih nggak percaya bisa melangkah sejauh ini.

Saya tinggal menunggu penutup paling akhir dari babak ini. Keberangkatan tanggal 1 April besok.

No comments:

Post a Comment