Friday, August 31, 2012

What is Your Motivation to Do PhD Research ?

Pertanyaan di atas sepertinya akan selalu disodorkan kepada para individu yang berniat melanjutkan pendidikannya pada level tertinggi: PhD atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai jenjang S3 (Strata 3), terutama bila yang bersangkutan mengajukan aplikasi beasiswa di luar negeri. Dan sekarang saya harus menjawab pertanyaan itu dalam waktu kurang dari 24 jam, sebelum deadline aplikasi beasiswa yang saya ajukan  ke salah satu institusi penelitian terkemuka di Jerman habis malam hari ini.

Bukannya sengaja mengulur waktu, tapi memang saya punya beberapa alasan untuk melakukan riset PhD dan tidak tahu mana yang harus saya tuliskan pada surat motivasi yang panjangnya tidak lebih dari satu halaman tersebut. 

So, what's my motivation to do PhD research ? 
  1. Saya mencintai bidang keilmuan yang saya geluti saat ini. Meteorologi mungkin salah satu bidang keilmuan yang paling nggak beken di republik ini. Coba saja tanya orang-orang di dekat anda, apa itu ilmu meteorologi ? Alih-alih menjawab dengan benar secara saintifik, saya khawatir nanti jawabannya malah berhubungan dengan klenik. Bagi sebagian orang awam, ilmu meteorologi mungkin tak lebih dari seni meramal cuaca semata, tapi bagi saya, meteorologi ibarat ilmu menyusun puzzle yang rumit, namun mengasyikkan. 
  2. Saya menyukai riset dan lingkungan akademik. Sebelum menjadi peneliti honorer, saya sempat menjadi programmer di salah satu perusahaan IT swasta di Jakarta, dengan gaji yang saat itu termasuk lumayan dan bonus tahunan yang lumayan pula. Namun entah kenapa saat itu saya merasa ada yang kurang dengan hidup saya. Puncaknya, ketika saya jalan-jalan ke kampus lama di Bandung, ada rasa rindu yang teramat sangat dengan riset dan kehidupan akademiknya. Tak lama setelah itu, saya putuskan untuk menjadi peneliti honorer, walaupun dengan gaji yang jauh lebih rendah dibandingkan programmer.
  3. Saya ingin menjadi spesialis di bidang yang saya geluti. Bidang radar cuaca/meteorologi saat ini masih terbilang langka di dunia per-meteorologi-an Indonesia. Dan bukannya mau sombong, saya termasuk orang-orang yang beruntung memiliki pengetahuan lebih di bidang ini dibanding peneliti meteorologi Indonesia lainnya. Saya punya keyakinan, spesialisasi pada suatu bidang tertentu (yang menjadi minat dan bakat kita) akan membawa manfaat besar pada karir kita di masa yang akan datang.
  4. Saya ingin kehidupan dan penghasilan yang lebih baik. Tak perlu munafik tentang ini. Tentu saja saya tidak bekerja hanya demi uang semata, tapi untuk bertahan hidup kita perlu uang kan ? Tak mungkin saya terus bekerja sebagai pegawai honorer dengan gaji pas-pasan, apalagi dalam waktu dekat saya kemungkinan akan berkeluarga. Mau dikasih makan apa anak istri saya nanti ? Masalahnya, di Indonesia, politikus dan penjilat jauh lebih dihargai dibandingkan peneliti. Dan saat ini, saya tidak punya minat lagi menjadi PNS. Dengan gelar PhD, saya masih punya kesempatan berkarir di luar negeri sesuai dengan bidang keahlian saya. Tentu saja dengan penghasilan yang lebih baik pula, sesuai dengan skill dan kemampuan yang saya miliki.
  5. Saya senang bepergian dan bertualang ke tempat-tempat baru. Ini lebih pada keinginan dan ambisi pribadi saja dan tidak terlalu berhubungan dengan studi PhD. Saya banyak terinspirasi oleh novel-novel karya Andrea Hirata dan Ahmad Fuadi, yang banyak menceritakan nikmatnya mencari ilmu di perantauan. Lagi pula, bukankah untuk bisa berkunjung ke berbagai belahan dunia, ke tempat-tempat indah yang belum banyak dikenal merupakan kebanggaan kebanyakan orang ?
Sebenarnya masih ada beberapa hal yang menjadi alasan saya ingin meneruskan studi ke level PhD, tapi mungkin apa yang sudah saya tuliskan di atas adalah yang menjadi motivasi utamanya.

Jadi, masih ada beberapa jam sebelum deadline. Masih ada waktu untuk merangkum semuanya menjadi sebuah surat motivasi.

SEMANGAT !!!