Showing posts with label Monbukagakusho. Show all posts
Showing posts with label Monbukagakusho. Show all posts

Tuesday, July 12, 2016

Gaijin Story #5 - Cara Menggunakan Bus Kota di Jepang

sumber: wikipedia/Tobu Bus
Jepang terkenal sebagai salah satu negara yang memiliki sistem transportasi terbaik di dunia. Bila anda berkunjung ke Tokyo misalnya, anda bisa mengunjungi hampir seluruh bagian kota hanya dengan menggunakan kereta atau bus. Selain itu, moda transportasi publik di Jepang terkenal sangat tepat waktu dan jarang sekali telat. Itu sebabnya, bepergian dengan transportasi publik di Jepang sangat nyaman, karena kita bisa menentukan dengan tepat, kapan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan.

Di Kashiwa, kota tempat saya tinggal, jaringan keretanya tidak sekompleks Tokyo, sehingga bus menjadi alat transportasi utama di sini. Saya yakin kota-kota lain yang tidak sebesar Tokyo juga mengalami hal yang sama. Menggunakan bus di Jepang memang sedikit lebih rumit dibandingkan kereta, dan inilah yang akan dibahas dalam tulisan kali ini.

Menggunakan bus di Jepang, tentu saja berbeda dengan di Indonesia. Berikut beberapa hal yang perlu anda perhatikan ketika akan menggunakan bus di Jepang :
  • Bus hanya berhenti di halte/bus stop.
  • Satu pintu digunakan untuk naik, sedangkan pintu lain digunakan untuk turun. Jadi, penumpang harus/naik dan turun di pintu yang sesuai.
  • Tidak ada kenek yang menagih ongkos. Pembayaran dilakukan dengan mesin (kadang dengan bantuan supir).
  • Pembayaran dilakukan dengan uang pas, secara cash atau dengan menggunakan IC card (semacam kartu e-money).
  • Ongkos ditentukan berdasarkan jarak tempuh dari tempat asal ke tujuan.
  • Relatif tepat waktu (walaupun belum setepat kereta, karena bergantung lalu lintas jalan).
  • Rentang waktu antar jadwal bus umumnya bergantung pada rute bus ybs. Pada rute yang ramai (misal dekat pusat kota), bus ada setiap 5-10 menit sekali. Pada rute yang sepi (misal pinggiran kota), bus biasanya ada setiap 30 menit - 1 jam sekali.
  • Jadwal bus dibedakan untuk hari kerja (Senin-Jumat) dan weekend (Sabtu-Minggu). Pada beberapa kasus, jadwal bus bisa terbagi menjadi tiga, yaitu: hari kerja - sabtu - minggu/hari libur. 
Kalau diurutkan, berikut langkah-langkah menggunakan bus di Jepang :

1. Pastikan Rute dan Jadwal Bus. 
Periksa rute dan jadwal bus yang akan anda gunakan sebelum bepergian via Internet atau langsung di halte bus. Cek lagi haltenya, apakah benar rute bus yang akan anda gunakan berhenti di halte tersebut, karena satu halte bus bisa digunakan oleh beberapa rute yang berbeda. 

Seperti halnya jadwal kereta, jadwal bus di Jepang umumnya berbentuk tabel yang terbagi menjadi beberapa kolom. Misal untuk hari rabu, periksalah jadwal bus pada kolom hari kerja (平日- "Heijitsu"). Kolom yang paling kiri (di baris berikutnya) adalah kolom "Jam", sedangkan kolom-kolom berikutnya adalah "Menit". Jadi, pastikan anda melihat jadwal sesuai dengan hari, jam dan menit yang tepat.

Contoh jadwal bus di halte

Kalau anda sudah tahu jadwal bus, tunggulah di halte sebelum jadwal kedatangan bus dan antrilah (kalau sudah ada orang lain di halte).

Bila bus sudah tiba di halte, pastikan nomor dan tujuan bus yang tertera di layar/depan bus sudah sesuai dengan rute yang anda inginkan. Jangan sampai salah naik.

2. Naik ke Bus
Untuk bus kota/umum, penumpang biasanya naik dari pintu tengah. Bila anda ingin membayar dengan cash, ketika naik, ambilah karcis dari kotak karcis yang ada dekat pintu tengah bus. Perhatikan angka yang tertera pada karcis tersebut, itu adalah kode halte asal yang nantinya akan menentukan ongkos yang harus anda bayar. Simpan karcis tersebut baik-baik.

 Kotak karcis (kiri) dan alat tap IC card (kanan)

Bila anda ingin menggunakan IC card untuk membayar, misalnya SUICA, PASMO dll, ketika naik, tap-lah kartu anda pada tempat yang sudah disediakan, yang biasanya berada di sebelah kotak karcis dekat pintu tengah. Ketika melakukan tap, perhatikan saldo kartu yang tertera pada layar. Pastikan saldo yang dimiliki cukup untuk membayar ongkos bus.

Karcis bus

IC Card SUICA
Pada beberapa kasus, misalnya bus charter, penumpang masuk dari pintu depan, dan menunjukkan tiket atau semacam kartu PASS kepada supir yang menunjukkan si penumpang memang berhak naik ke bus tersebut.

3. Duduk atau Berdiri di Bus
Seperti halnya di kereta, tempat duduk di bus umumnya terbatas. Jadi ketika jam-jam sibuk, anda kemungkinan harus berdiri di bus. Beberapa kursi bus juga diprioritaskan untuk penyandang cacat, manula, anak-anak dan ibu hamil. Jadi, perhatikan sekeliling dan keterangan di kursi sebelum anda duduk.

4. Periksa Ongkos yang Harus Dibayar
Pada bagian depan bus ada semacam layar yang menunjukkan halte pemberhentian berikutnya dan ongkos yang harus anda bayar. Ongkos ini ditentukan berdasarkan jarak dari halte asal dan halte tujuan. Misalnya di karcis tertera angka "1", maka carilah angka tersebut pada layar. Bila sudah ketemu, di bawah angka "1" akan tertera ongkos yang harus anda bayar bila anda turun di halte berikutnya, misal "170", yang berarti 170 Yen.

Layar penunjuk ongkos bus
Pengguna IC card bisa lebih santai, karena tidak harus selalu memperhatikan layar (selama saldo di kartu anda masih cukup untuk mebayar ongkos bus).

5.  Membayar Ongkos dan Turun dari Bus
Beberapa saat sebelum halte tujuan, announcer/speaker bus akan menginformasikan nama halte tersebut. Bila anda ingin turun di halte tersebut, tekanlah tombol berhenti (とまります- "Tomarimasu") yang terletak di dinding atau dekat kursi. Tombol akan menyala disertai dengan suara denting, dan announcer akan berkata "Sugi tomarimasu" yang artinya kurang lebih: "berhenti di halte berikutnya".

Tombol berhenti di bus
Pada bus kota/umum, penumpang turun melalui pintu depan. Sebelum turun, masukkan karcis dan ongkos pada tempat yang sudah disediakan, di dekat supir. Bentuknya kurang lebih seperti celengan dengan lubang besar. Di depan "celengan" tersebut, ada layar yang menunjukkan ongkos yang harus anda bayar.



Bagaimana bila anda tidak bisa membayar dengan uang pas ?

Di sebelah celengan ongkos, terdepat satu mesin celengan lagi (umumnya berwarna biru/ungu, dengan lubang yang lebih kecil) yang fungsinya untuk menukar uang besar dengan uang kecil. Misal anda memasukkan sekeping koin 100 Yen, maka mesin tersebut akan mengeluarkan sekeping koin 50 Yen, dan lima keping koin 10 Yen. Mesin ini juga bisa menukar uang kertas dengan pecahan yang lebih besar, misalnya 1000 Yen.

Setelah menukar uang dan mendapat uang kecil, masukkan uang tersebut ke dalam celengan ongkos, bersama dengan karcis.

Pengguna IC card cukup melakukan tap pada tempat yang sudah disediakan. Layar akan menunjukkan ongkos yang dibayar dan sisa saldo pada kartu. Mudah sekali.

Bila anda ingin membayar ongkos untuk dua orang, katakan "futari desu" ke supir. Bila menggunakan IC card, supir akan mengatur mesin tap agar memotong saldo kartu untuk ongkos dua orang. Jadi jangan lupa memberitahu supir sebelum anda melakukan tap.

Pada bus charter, penumpang bisa langsung turun dari pintu tengah tanpa membayar karena sebelumnya sudah menunjukkan kartu PASS ke supir ketika naik bus dari pintu depan.

 ---------------

Demikian cara menggunakan bus di Jepang. Berikut ada beberapa beberapa tips tambahan :
  • Jadwal bus umumnya tidak sesering dan setepat kereta. Jadi pastikan anda tepat waktu bila ingin menggunakan bus.
  • Membayar ongkos dengan IC card lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan cash. Selain itu, anda juga mendapat sedikit diskon bila membayar dengan IC card.
  • Bila harus membayar dengan cash, pastikan anda sudah memiliki uang pas sebelum naik bus untuk menghindari antrian dan waktu yang terbuang ketika menukar uang sebelum turun dari bus.
  • Antrilah baik ketika naik dan turun dari bus.
  • Jangan makan, minum atau berisik ketika di dalam bus (orang Jepang umumnya sensitif, dan mudah terganggu bila anda ngobrol dengan suara keras).
  • Bila bingung, misalnya ketika akan turun atau membayar, jangan segan bertanya pada supir. Umumnya supir masih bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris (atau isyarat).

Thursday, June 16, 2016

Gaijin Story #4 - Kashiwa Lodge


Minggu, 12 Juni 2016, awal musim panas.

Setelah proses administrasi yang lumayan rumit, saya dan istri akhirnya resmi pindah ke apato (apartemen) di daerah Midoridai, Kashiwa. Untuk mengenang tempat tinggal saya selama dua bulan pertama di Jepang, maka pada tulisan kali ini saya akan sedikit bercerita tentang Kashiwa Lodge.

Kashiwa lodge (Todai Kashiwa International Lodge) adalah salah satu fasilitas akomodasi yang disediakan khusus untuk mahasiswa internasional Todai yang berkampus di Kashiwa. Berbeda dengan dorm lainnya seperti Komaba atau Shirokane, Kashiwa lodge adalah satu-satunya lodge yang berlokasi di luar Tokyo, dan masih tergolong baru (dibangun tahun 2009). Kalo anda mahasiswa baru Todai (S2/S3/Research Student) dan mengambil bidang Fisika, Astronomi, Lingkungan, Meteorologi atau Oseanografi, maka besar kemungkinan anda akan ditempatkan di Kashiwa lodge, karena pusat penelitian untuk bidang-bidang keilmuan di atas berada di Kashiwa.

Kashiwa lodge, Mei 2016
Kashiwa lodge terletak berseberangan dengan Kashiwanoha Park, dan berjarak kurang lebih 1.2 km dari kampus Kashiwa Todai, jadi bisa jalan kaki ke kampus. Stasiun terdekat dengan Kashiwa lodge adalah Kashiwanoha Campus-eki yang bisa ditempuh kurang lebih 30 menit dari Tokyo dengan menggunakan Tsukuba Express. Dari Kashiwanoha Campus-eki, kita bisa mencapai Kashiwa lodge dengan berjalan kaki selama kurang lebih 15-20 menit atau naik bus selama 5 menit.

Kashiwa lodge terdiri dari tiga bangunan utama dengan empat lantai yang saling terhubung, kalo diliat dari atas kurang lebih seperti huruf "E". Pada dasarnya ada tiga jenis kamar yang disediakan: Single (1 orang), Couple (2 orang) dan Family (lebih dari 2 orang). Kamar single terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu kamar single untuk mahasiswa dan kamar single untuk researcher. Kamar single untuk researcher ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan kamar single mahasiswa. Kamar couple dan family hanya dikhususkan untuk mahasiswa/researcher yang sudah berkeluarga. Sesuai dengan namanya, Kashiwa lodge diperuntukkan bagi mahasiswa internasional. Jadi, anda tidak akan menemukan mahasiswa Jepang yang tinggal di sini (kecuali untuk beberapa kasus tertentu).

Deretan kamar single lantai 2 Kashiwa lodge, April 2016
Kamar single untuk mahasiswa ukurannya lumayan kecil namun nyaman, dengan fasilitas AC, internet (kabel), kamar mandi/toilet, meja, kursi, lemari (baju dan sepatu), jemuran, intercom, kulkas kecil dan tempat tidur, walaupun tidak ada balkon dan dapur seperti halnya kamar couple/family. Untuk memasak, kita bisa menggunakan common room yang terletak di tengah bangunan utama di setiap lantai. Di common room juga tersedia TV, vending machine minuman (lantai 1) dan perpustakaan kecil (lantai 1). Oh iya, koneksi internet wifi juga tersedia di common room. Di tiap lantai juga terdapat dua ruang laundry, masing-masing dilengkapi dengan sepasang mesin cuci dan pengering pakaian yang dioperasikan dengan koin. Khusus untuk lantai 1, terdapat multi purpose room dan meeting room yang bisa digunakan untuk acara-acara tertentu, misalnya untuk party atau sholat berjamaah bagi yang muslim. Fasilitas lain yang bisa digunakan adalah parkir sepeda dan lapangan basket, rugby, basket dan ruang fitness yang terletak persis di sebelah lodge.





Fasilitas kamar single Kashiwa lodge
Karena lokasinya yang berada agak di pinggiran Kashiwa, suasana lodge lumayan sepi dan agak-agak "terpencil" dari keramaian kota. Supermarket terdekat jaraknya kurang lebih 400 m dari lodge, sedangkan convenient store malah lebih jauh lagi (1 km). Pusat perbelanjaan terdekat dengan lodge adalah Lalaport yang terletak di sebelah Kashiwanoha campus-eki. Karena suasananya yang sunyi senyap itulah, kebanyakan penghuninya akan menghabiskan weekend di luar lodge, misalnya ke Tokyo, Chiba atau yang paling dekat, pusat kota Kashiwa. Di sisi lain, kalo anda ingin belajar dengan tenang, anda dijamin akan betah tinggal di lodge ini sepanjang hari.

Kashiwanoha campus-eki dan Lalaport (sumber:http://static.panoramio.com)

Lapangan rugby dan fitness centre di sebelah Kashiwa lodge, Juni 2016
Berapa biaya sewa bulanan di Kashiwa lodge? Untuk kamar single (mahasiswa) kurang lebih 37 ribu yen. Bila ditambah dengan biaya listrik, air, gas dan fasilitas umum lainnya, totalnya sekitar 50 ribu yen, termasuk murah untuk lokasi yang berdekatan dengan Tokyo. Tapi untuk kamar couple/family biaya sewanya lumayan mahal, masing-masing 85 ribu dan 108 ribu yen, itu baru biaya kamar saja. Bagaimana kalau tinggal bersama istri/keluarga di kamar single? Tidak bisa. Kamar single hanya boleh untuk satu orang, itu sudah peraturannya. Walaupun begitu, penghuni kamar single diijinkan membawa anggota keluarganya (istri, anak, orang tua atau saudara) untuk tinggal bersama di lodge paling lama tiga bulan.


Fire drill dan Welcome Party Kashiwa Lodge, Mei 2016

Umumnya penghuni diijinkan tinggal di lodge selama 1 tahun. Setelah itu, kita dipersilakan mencari tempat tinggal baru (apato), atau mengajukan permohonan perpanjangan untuk tinggal di lodge. Perpanjangan tinggal biasanya akan diterima bila kamar lodge masih tersedia, di mana mahasiswa baru yang akan diprioritaskan. Berhubung mahasiswa di kampus Kashiwa tidak seramai di kampus utama di Tokyo, umumnya kamar kosong masih banyak tersedia di lodge. Beberapa kenalan saya malah mengaku sudah tinggal 2 tahun di Kashiwa lodge.

Saya sebenarnya juga dipersilakan menghuni kamar single lodge hingga Maret 2017. Namun, karena istri memutuskan tinggal bersama saya di Jepang, maka saya harus mencari apartemen baru atau pindah ke kamar couple. Berhubung biaya kamar couple kurang terjangkau untuk mahasiswa MEXT seperti saya, maka mencari apato adalah opsi yang saya pilih. Saya sempat tinggal di lodge selama hampir 2,5 bulan sebelum akhirnya pindah ke apato baru bersama istri.

Begitulah kurang lebih cerita saya tentang Kashiwa lodge. Kalau dirangkum, berikut plus-minus tinggal di tempat ini (dari pengalaman saya) :

Plus :
  • Suasananya tenang, nyaman buat belajar. Berdekatan dengan Kashiwanoha park.
  • Biaya sewa relatif murah (single room).
  • Tidak perlu mengeluarkan ongkos transportasi lebih karena bisa jalan kaki ke kampus (kecuali anda mengambil kelas di Tokyo).
  • Bangunan relatif masih baru, bersih dan fasilitasnya lengkap.
  • Dekat dengan toko makanan murah (Okaa-san). Bagi yang muslim, anda juga bisa menemukan daging ayam halal di toko ini.
Minus :
  • Biaya sewa yang mahal untuk couple/family room.
  • Pilihan transportasi yang relatif terbatas.
  • Jauh dari convenient store.
  • Sepi dan minim hiburan.
Setahun sekali di Kashiwa lodge akan dilakukan Fire Drill (latihan kebakaran) dan simulasi gempa bumi. Selain itu, akan ada welcome party bagi mahasiswa baru yang tinggal di lodge. Jadi, kalau anda mahasiswa baru Todai dan berkampus di Kashiwa, saya sarankan anda memilih akomodasi di Kashiwa lodge sebelum mencari apartemen lain. Ditempat ini, anda bisa bertemu orang-orang dari berbagai belahan dunia, dan tentunya akan banyak pengalaman menarik yang bisa diperoleh selama tinggal di sini :-)


Friday, May 27, 2016

Gaijin Story #3 - Berburu Provider Seluler Murah Tanpa Credit Card di Tokyo

Sumber: www.nippon.com

Telekomunikasi adalah salah satu hal paling penting bagi setiap orang, nggak cuma di Indonesia, tetapi juga di Jepang. Dan mungkin juga, banyak orang yang sudah paham kalau Jepang memiliki sistem yang berbeda dengan Indonesia, dalam hal telekomunikasi seluler. Di Indonesia, kita bisa dengan mudah memiliki nomor HP sesuai keinginan. Tinggal pilih provider seluler, beli SIM Card, pasang di HP, registrasi, selesai.

Bagi orang yang menetap di Jepang (lebih dari 3 bulan dan bukan turis), untuk bisa memiliki nomor HP, kita harus memiliki kontrak dengan provider seluler, tidak peduli apakah sistemnya pra-bayar maupun pasca-bayar. Kebanyakan provider seluler di Jepang menawarkan kontrak dalam bentuk paket bersama dengan smartphone, artinya kalau kita beli paket, kita juga mendapat smartphone baru. Periode kontrak umumnya dua tahun. Bila kita ingin memutus kontrak kurang dari dua tahun, maka kita harus membayar pinalti. Mau ganti SIM card diam-diam? Nggak semudah itu, karena smartphone sudah dikunci untuk bisa bekerja dengan SIM card dari provider yang bersangkutan.

Biaya bulanan yang harus kita bayarkan untuk sistem kontrak semacam ini biasanya terbilang mahal, karena pelanggan nggak cuma membayar paket komunikasi, tapi juga sekaligus "nyicil" smartphone yang sudah termasuk dalam kontrak tadi. Kontrak dengan DOCOMO, operator terbesar di Jepang, misalnya, paling murah 7000-8000an yen per bulan (silakan kali Rp.100 untuk kisaran harga kasarnya dalam Rupiah). Walaupun cenderung memberatkan, masih banyak orang yang memilih kontrak semacam ini, umumnya karena tertarik dengan smartphone yang ditawarkan, misalnya iPhone atau Samsung Galaxy model terbaru.

Alternatif lain yang bisa digunakan adalah kontrak tanpa smartphone, artinya kita hanya membeli SIM card saja. Kontrak hanya dengan SIM ini jauh lebih murah, dan untungnya lagi, kita bisa menggunakan smartphone apapun, selama SIMnya tidak terkunci, seperti halnya smartphone yang dijual di Indonesia. Biaya bulanan untuk kontrak semacam ini biasanya di bawah 5000 yen per bulan.

Kalau saya sendiri, jujur saja, tidak peduli dengan smartphone, dan lebih tertarik dengan paket komunikasinya saja. Bagi saya, smartphone yang saya bawa dari Indonesia sudah lebih dari cukup untuk keperluan komunikasi, seperti telepon, chatting atau internet. Pokoknya yang penting saya dapat nomor telepon Jepang untuk berbagai keperluan, seperti asuransi, mencari apartemen dan layanan publik lainnya, itu saja. Lagian, saya mahasiswa yang hidupnya bergantung dengan beasiswa. Jadi, daripada habis buat bayar telepon, mendingan duitnya dipakai untuk hal lain yang lebih penting, atau ditabung. Alasan lainnya, informasi paket + smartphone yang ditawarkan provider besar seperti DOCOMO cenderung rumit, terlalu detil dan membingungkan, padahal yang kita butuhkan sebenarnya hanya kisaran biaya total yang harus dibayarkan setiap bulannya. Mungkin ini strategi bisnis atau memang bagian dari budaya masyarakat Jepang yang serba detil ? Entahlah.

Informasi paket bulanan DOCOMO yang njelimet ... biaya di atas belum termasuk pajak dan nyicil smartphone
Kesimpulannya, saya lebih tertarik dengan sistem kontrak dengan SIM saja, dibandingkan paket kontrak dengan smartphone yang ditawarkan provider-provider besar di Jepang.

Mencari provider SIM (atau lazim disebut MVNO) di Jepang sebenarnya gampang-gampang susah, karena jumlahnya yang lumayan banyak, dengan layanan yang beraneka ragam.

Walaupun provider-provider MVNO sering menampilkan iklan dengan "bumbu" bahasa Inggris, anda pada dasarnya tetap harus bisa berbahasa Jepang, karena staf di toko mereka umumnya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya beberapa kali mencoba berkunjung ke toko-toko MVNO untuk menanyakan paket yang ditawarkan, dan umumnya para staf di sana kebingungan ketika saya bertanya dalam bahasa Inggris. Saya juga pernah mencoba bertanya dalam bahasa Jepang yang masih payah (ditambah bahasa isyarat), hasilnya sama saja. Bagi saya, lebih baik mencari provider yang benar-benar bisa memberikan informasi yang jelas dalam bahasa Inggris, daripada kebingungan di kemudian hari. Untungnya, di beberapa lokasi di Tokyo yang ramai dengan turis, seperti Akihabara atau Shibuya, banyak staf toko yang bisa berbahasa Inggris, misalnya BIC SIM atau IIJMO.

Kendala berikutnya adalah metode pembayaran. Kebanyakan provider MVNO hanya menerima pembayaran via credit card, dan berhubung membuat credit card di Jepang tidak gampang dan butuh waktu (setidaknya 1-2 bulan), ini berarti masalah buat orang asing yang tidak memiliki credit card seperti saya. Karena kendala inilah, akhirnya saya tidak jadi membuat kontrak dengan BIC SIM dan IIJMO, dan harus mencari provider lain.

Awalnya, saya nyaris putus asa karena tak kunjung menemukan provider MVNO yang mau menerima pembayaran selain credit card, misalnya lewat transfer bank/ATM. Sempat juga nyaris membuat kontrak dengan DOCOMO yang biaya bulanannya selangit itu (DOCOMO menerima pembayaran cash), karena saya harus segera mendapatkan nomor telepon Jepang untuk keperluan lain. Untungnya, setelah bertanya lewat sebuah forum, salah seorang anggota yang sudah tinggal lama di Tokyo menyarankan saya untuk menghubungi GTN, salah satu provider MVNO yang bermarkas di Shin-Okubo.

Informasi paket SIM GTN yang sederhana dan .. murah ...
Walaupun sempat ragu, namun karena butuh cepat, akhirnya saya beranikan diri ke toko mereka di Shin-Okubo. Di sana, saya diberikan penjelasan tentang paket-paket yang ditawarkan mereka, dalam bahasa Inggris. Paket flat untuk voice dan data sekitar 3000an yen, sedangkan untuk paket 3 GB dihargai sekitar 1900an yen, per bulan. Termasuk murah untuk ukuran MVNO dengan layanan voice dan data. Kontraknya minimal 7 bulan dan fleksibel, di mana kita  bisa memilih paket lain setelah 3 bulan. Tapi yang paling membuat saya lega, pembayaran bulanannya bisa dilakukan via transfer bank dan konbini (convinient store). Saya pun segera membuat kontrak baru dengan GTN, dan dalam tempo sekitar 30 menit, seluruh proses registrasi selesai dan smartphone saya sudah memiliki nomor Jepang :-D

Perburuan provider MVNO pun selesai. Sejauh ini saya cukup puas dengan service yang ditawarkan GTN, terutama untuk layanan bahasa Inggris dan metode pembayarannya. Jadi, sepertinya dalam 7 bulan ke depan saya tidak akan pindah dulu ke provider lain.

Monday, May 16, 2016

Gaijin Story #2 - Kashiwa no Shigatsu

Sakura di Kashiwanoha Koen (Taman Kashiwa)
16 Mei 2016.

Tidak terasa, sebulan lebih sudah terlewati sejak pertama kali datang ke Kashiwa. Inilah rekor terlama saya di Jepang. Sebelumnya, saya cuma paling lama 3 minggu berkunjung ke negara ini. 

Kashiwa adalah salah satu kota di perfektur Chiba, kurang lebih empat puluh kilometer di sebelah utara Tokyo. Kalau dengan kereta, Kashiwa bisa dijangkau dalam waktu 20-30 menit dari Tokyo. Di kota inilah, salah satu kampus Todai berada, Kashiwa campus. Umumnya, laboratorium dan pusat riset Todai yang berhubungan dengan ilmu alam dan lingkungan berada di kampus ini. Kashiwa campus berlokasi di Kashiwanoha, kalau diartikan secara kasar: "Daun Kashiwa", mungkin karena di tempat ini banyak sekali ditemui taman dan pepohonan dibandingkan pusat kota Kashiwa. Karena posisinya yang berada agak di pinggiran Kashiwa dan lumayan jauh dari hiruk pikuk perkotaan, maka suasana kampus saya bisa dibilang sunyi senyap kalau dibandingkan dengan Hongo campus, kampus utama Todai di Tokyo. Jarak dari kampus ke tempat tinggal saya di Kashiwa lodge kurang lebih 1.2 km, dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 15-20 menit, menyusuri tepi Kashiwanoha Koen (taman Kashiwanoha). Taman ini sangat indah di awal musim semi. Sepanjang jalan dipenuhi oleh pepohanan Sakura yang sedang bermekaran.

University of Tokyo, Kashiwa Campus
Minggu pertama saya di Jepang lebih banyak disibukkan oleh urusan administrasi dan orientasi. Seperti gaijin (orang asing) lainnya yang menetap di Jepang, yang pertama kali harus saya lakukan adalah mendaftarkan alamat saya ke city hall (balai kota), paling lambat 14 hari sejak pertama kali tiba di Jepang. Selain itu, saya juga harus mendaftar asuransi kesehatan nasional Jepang. Dengan asuransi ini, kita hanya perlu membayar 30% biaya pengobatan di klinik atau rumah sakit di Jepang, sisanya akan ditanggung oleh negara. Selain registrasi alamat dan asuransi, kita juga harus melaporkan diri agar tidak dikenai pajak pensiun Jepang, karena status kita adalah pelajar (dianggap belum memiliki pendapatan tetap). Ketiga prosedur ini merupakan syarat yang harus dipenuhi, karena bila tidak dilakukan, maka kita tidak bisa membuka rekening di bank. Dan kalau tidak ada rekening, maka tidak ada uang beasiswa. As simple as that ...

Registrasi alamat dan asuransi nasional (hoken) di Kashiwa city-hall
Urusan administrasi di Jepang bisa dibilang sangat strict, dan terkadang, butuh berlembar-lembar dokumen. Kita harus memberikan data diri seakurat mungkin. Berbeda sedikit saja, misalnya ketika penulisan alamat, urusannya bisa rumit. Untungnya, untuk urusan administrasi, saya banyak dibantu oleh tutor di lab saya, sedangkan untuk membuka rekening di bank, saya (dan mahasiswa baru lainnya) dibantu oleh staf dari international liaison office fakultas. Tanpa mereka, mungkin bisa amburadul semuanyaa ...

Selain itu, saya juga harus bolak-balik Tokyo-Kashiwa untuk mengikuti berbagai orientasi di kampus Hongo. Biaya transportasi di Jepang lumayan mahal dibandingkan pengeluaran lainnya. Dari Kashiwa ke kampus Hongo Todai di Tokyo misalnya, biaya yang dikeluarkan untuk sekali jalan kurang lebih 850 yen. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp.100/yen, berarti bolak-balik sudah 1700 yen atau Rp. 170 ribu, padahalnya jaraknya hanya seperti Jakarta-Bogor saja. Omong-omong soal duit, ternyata untuk mahasiswa MEXT yang tinggal di sekitar kota besar seperti Tokyo, mendapat subsidi sebesar 2000 yen per bulan. Jadi kalau ditotal, beasiswa saya sebulan dapat 145 ribu yen. Nggak banyak sih, tapi disyukurin aja.

Orientasi mahasiswa internasional (MEXT/JASSO) di Graduate School of Science Todai
Di minggu pertama pula, saya untuk pertama kalinya bertemu langsung dengan Sensei dan teman-teman lab. Ketika acara orientasi dan perkenalan, ternyata saya adalah satu-satunya gaijin di lab, sisanya orang Jepang semua. Aneh rasanya, ketika yang lain memperkenalkan diri dalam bahasa Jepang, dan hanya kita yang dalam bahasa inggris. Rasanya benar-benar seperti "Alien" di lab. Tapi mau bagaimana lagi, kemampuan bahasa Jepang saya saat itu mungkin nyaris nol.

Minggu kedua di Jepang, saya mulai merasakan mood swing yang agak parah. Lingkungan yang asing, ditambah dengan orang-orang di lab yang hampir semuanya Nihonjin sedikit membuat saya agak kesepian. Dari pengalaman saya, orang Jepang umumnya tertutup dengan orang asing. Bila kita diam, maka mereka juga akan diam, bahkan cenderung terlihat kurang bersahabat. Tapi kalau sudah kenal (dan percaya) dengan kita, mereka sangat loyal dan suka ngobrol. Jadi bisa dibayangkan ketika pertama kali datang ke lab, suasananya rada-rada gloomy gitu, karena mahasiswanya kebanyakan sibuk dengan kuliah dan penelitian masing-masing. Mau ngajak ngobrol juga nggak enak, walaupun ada beberapa juga yang bisa diajak ngobrol dan bercanda, kebanyakan adalah mahasiswa S3.

Satu-satunya gaijin (orang asing) di lab
Oh iya, di lab saya ada 16 orang mahasiswa, sebagian besar mahasiswa S2. Nah, para mahasiswa S2 ini umumnya lebih serius, kaku dan sangat fokus dengan studinya. Mahasiswa S3 di sisi lain, kelihatan lebih santai dan terbuka. Kadang mereka tidak segan mengajak saya makan bareng atau sekedar ngobrol. Mereka juga kebanyakan mampu berbahasa inggris lebih fasih dibandingkan mahasiswa S2. Tapi ya, saya juga pingin ngobrol dalam bahasa Jepang. Selain untuk mendukung keseharian saya, juga untuk meningkatkan pertemanan dengan teman-teman lab.

Untungnya di kampus Kashiwa ada kursus bahasa Jepang, gratis untuk mahasiswa dan peneliti Todai, beserta keluarganya. Dengan ijin sensei, saya pun mendaftar kelas Nihongo reguler untuk level beginner, kelas percakapan (beginner juga) dan kanji 300. Kelasnya hanya 1 jam per hari, mulai dari senin sampai kamis. Yang paling menyenangkan dari kelas Jepang adalah, kita bisa bertemu dengan orang lain dari berbagai belahan bumi yang juga sedang belajar bahasa Jepang, mulai dari Tiongkok, Korea, Filipina, Brazil, Perancis dll.

Kelas bahasa Jepang di Kashiwa campus
Tapi, bergaul dengan orang asing pastinya nggak senyaman bergaul dengan orang Indonesia kan ? Dari sekian banyak mahasiswa MEXT Todai yang berangkat April 2016, hanya saya yang kampusnya di Kashiwa. Jadi, sejak pertama kali datang, saya mulai mencari-cari orang Indonesia yang ada di kampus Kashiwa. Berawal dari pertemuan dengan seorang mahasiswa Indonesia di kelas bahasa Jepang, akhirnya saya mendapatkan kontak mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang lain di Kashiwa. Awalnya hanya satu, lama-lama makin banyak orang Indonesia yang saya kenal, baik di kampus Kashiwa, maupun Hongo atau Komaba. Saya pun ikut bergabung dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Todai.

Foto bersama pengurus PPI Todai 2016
Alhamdulillah, saya banyak mendapat pengalaman dan masukan dari teman-teman di PPI Todai, terutama untuk bertahan hidup di Jepang, mulai dari cara mencari apartemen, mencari operator hp seluler yang cocok sampai cara mencari perabotan second di Kashiwa. Memang, ongkos yang keluar lebih besar karena acara kumpul-kumpulnya kebanyakan di Tokyo, tapi manfaatnya jauh lebih besar, dan yang paling penting, rasa kesepian (dan stress) saya jauh berkurang. 

Puncaknya mungkin adalah ketika acara Go Gatsu Sai (May Festival) di kampus Hongo Todai, tanggal 14-15 Mei 2016. Anak-anak PPI Todai membuka stand bakso dan menampilkan atraksi angklung untuk menarik pengunjung. Jujur saja, awalnya saya agak enggan berpartisipasi, karena jadwal minggu itu lumayan padat oleh seminar dan meeting di lab, belum lagi ongkos bolak-balik Tokyo yang lumayan mahal. Tapi, akhirnya saya putuskan ikut bergabung dan berpartisipasi, mulai dari latihan angklung sampai acara puncaknya. Alhamdulillah, keputusan yang saya ambil tidak salah. Saya banyak bertemu teman, tidak cuma teman baru, tapi juga dengan teman-teman lama yang saat itu kebetulan berkunjung ke stand Indonesia. Suasananya sangat menyenangkan bisa berkumpul bareng dengan orang-orang Indonesia di negeri asing seperti Jepang. I felt really like at home ...

Foto bersama Setelah dagangan bakso ludes, laris manis ...
Sabtu depan, InsyaAllah, saya tidak akan kesepian lagi, karena istri saya akan datang dan menetep di Kashiwa, mulai tanggal 21 Mei.

Alhamdulillah ya Allah, atas segala nikmat dan pengalaman yang Engkau berikan di bulan-bulan pertama hamba di Jepang. Bila memang ini jalan yang harus hamba tempuh selama studi di negeri ini, hamba mohon mudahkanlah ... aamiin.

Friday, May 6, 2016

Gaijin Story #1 - Hari Pertama

2 April 2016, 05:30 JST

JL726, di suatu tempat di atas laut Filipina bagian utara, kurang lebih 40 ribu kaki di atas permukaan laut.

Lampu-lampu kabin dinyalakan. Para penumpang pun banyak yang terjaga dari tidurnya. Sebagian mulai melangkah ke lavatory di bagian tengah dan belakang pesawat. Para pramugari pun mulai sibuk hilir mudik membagikan kain hangat untuk penumpang, sebagian lainnya mempersiapkan hidangan untuk sarapan. Di luar jendela, matahari masih tampak malu-malu di balik awan Altostratus yang mendominasi langit di pagi itu. Yang lebih banyak terlihat hanya semburat jingga di ufuk timur sana.

Hari ini ... beberapa saat lagi saya akan tinggal dan menetap di Jepang, untuk yang pertama kalinya. 

Walaupun sudah beberapa kali mengunjungi negeri ini sebelumnya, tapi sekarang tentu akan berbeda. Kalo dulu sifatnya kerja, temporary visit, kali ini statusnya adalah permanent resident, sebagai pelajar. Kalo dulu lebih seperti turis, bebas belanja dan keluyuran ke mana-mana setelah urusan dengan pekerjaan selesai, sekarang harus pintar-pintar mengatur duit kalo mau bertahan hidup. Dan pastinya bakal ada banyak tantangan lagi yang harus dihadapi selama tinggal di negari matahari terbit ini. 

"Ohayoo gozaimasu ..", sapaan pramugari menyadarkan saya dari lamunan, seraya menyodorkan baki sarapan.


Menu sarapan kali ini: waffel, sosis ayam, kentang, brokoli, ditambah yogurt, buah-buahan, dua botol Yakult dan semangkuk sup miso. Orang yang doyan sarapan nasi uduk atau bubur ayam pasti akan linglung sejenak disuguhi menu macam ini. Perut sebenarnya nggak terlalu lapar, maklumlah, sudah dihajar bakso O***s di bandara Cengkareng semalam. Tapi saya paksa saja sarapan. Perjalanan masih belum selesai, kita nggak tau apa yang bakal terjadi setelah mendarat nanti. Apakah bakal lama tertahan di imigrasi Narita, belum lagi perjalanan ke tempat tinggal baru.

Awal bulan April, waktu Sakura mulai bermekaran, yang juga bertepatan dengan tahun akademik baru, sekaligus tahun fiskal baru di Jepang. Jadi bisa dibayangkan bagaimana ramainya bandara-bandara di Jepang oleh para turis dan mahasiswa dari berbagai belahan bumi. Dan itu artinya, antrian di loket imigrasi bakal panjang. Jadi, daripada kelaparan di bandara, mending sarapan aja lah. Soal rasa enak atau nggak, itu urusan belakangan.

Dua jam kemudian, kurang lebih pukul 7:30 waktu setempat, pesawat landing dengan mulus di bandara Narita. Para penumpang pun bergegas menuju loket imigrasi di terminal kedatangan. Saya bukan satu-satunya penerima beasiswa MEXT dari Indonesia yang datang ke Jepang hari itu. Kurang lebih ada 10 orang mahasiswa Indonesia yang berangkat dengan penerbangan yang sama, dan semuanya berdomisili di Tokyo dan sekitarnya.

Sesampai di loket imigrasi, antrian mulai mengular, walaupun belum panjang. Seorang petugas wanita dengan suara lantang dan bahasa Inggris yang lumayan lancar meminta agar orang-orang yang akan menetap di Jepang (permanent resident), termasuk mahasiswa, untuk menunggu di antrian yang berbeda dengan antrian turis. Di sana sudah ada sekelompok orang, sepertinya dari India atau Bangladesh, dan sebagian orang-orang dari Asia Tenggara, seperti Thailand atau Myanmar. Kami menunggu lumayan lama sebelum akhirnya diminta masuk ke dalam sebuah ruangan khusus untuk membuat Resident Card. Kartu ini bisa dibilang semacam KTP untuk gaijin alias orang asing, yang menunjukkan data, status dan periode menetap dari yang bersangkutan. Lucunya, konon kartu ini dulunya disebut Alien Card ... alien ... orang asing dianggap alien ... hahha. Walaupun kalau diartikan memang betul segala sesuatu yang asing itu alien, tp tetap aja aneh didengar.


Karena saya punya rencana suatu saat kerja sambilan di Jepang (baito), maka saya juga menyerahkan form aplikasi baito ke petugas imigrasi. Sebelum berangkat saya sudah membaca berbagai postingan di internet yang mewanti-wanti agar aplikasi ini dilakukan segera setelah mendarat di Jepang, karena prosesnya akan jauh lebih mudah dibandingkan bila aplikasinya dilakukan di kemudian hari. Setelah aplikasi, resident card akan diberi cap khusus yang menunjukkan kita sudah sah untuk bekerja part-time di Jepang.


Setelah urusan imigrasi beres, saya pun berpamitan ke teman-teman dari Indonesia untuk melanjutkan perjalanan ke Kashiwa, tempat tinggal saya selama di Jepang. Kota ini terletak kurang lebih 40an km di sebelah timur laut Tokyo. Kashiwa bisa dijangkau dengan angkutan umum seperti kereta, bus dan taksi. Berhubung bawaan saya lumayan banyak, saya lebih memilih bus karena tidak perlu pindah-pindah seperti halnya kereta, dan tentu saja ongkosnya tidak akan semahal taksi. Saya menggunakan Tobu Bus dengan tujuan Kashiwanoha Campus, daerah tempat tinggal saya. Ongkosnya 1700 yen untuk satu orang.

Perjalanan dari Narita ke Kashiwa ternyata lumayan lama, kurang lebih 2 jam, padahal kalo di peta kayaknya nggak terlalu jauh. Begitu sampai di Kashiwanoha, saya pun melanjutkan perjalanan via jalan kaki ke tujuan akhir. Jalan kaki ternyata adalah pilihan yang salah, karena jarak yang ditempuh lumayan jauh dari tempat turun bus tadi. Setelah susah payah mendorong dua koper ukuran jumbo sejauh kurang lebih 1 km, akhirnya saya sampai juga di rumah baru saya.


Kashiwa International Lodge alias Kashiwa lodge, demikian tempat ini disebut, adalah tempat tinggal mahasiswa dan peneliti internasional Todai. Sesuai namanya, para penghuni Kashiwa Lodge hampir semuanya pendatang. Dari pengamatan saya, sebagian besar orang yang tinggal di tempat ini berasal dari Tiongkok, sedangkan sisanya ada yg dari Korea, Turki, India, Yunani, Samoa, Indonesia, Filipina dan lain-lain. Suatu saat mungkin saya akan buat tulisan khusus tentang tempat ini.

Setelah menyelesaikan registrasi, saya pun masuk ke kamar yang sudah ditentukan. Hari pertama yang melelahkan. Tapi alhamdulillah, semuanya lancar, mulai dari berangkat sampai sesampainya di lodge.

Dua belas jam terlewati sejak kaki melangkah masuk ke pesawat di bandara Cengkareng semalam. Matapun terasa mulai berat. Selepas sholat dzuhur, saya beringsut ke kasur. Berbaring, melepaskan semua penat di badan.

Cukup sekian dulu laporan di hari pertama.
 

Friday, April 22, 2016

Cerita Monbukagakusho #11 - The Departure (Self Note)

1 April 2016 16:30 WIB.

Taksi yang kutumpangi berjalan pelan menyusuri kemacetan di PRJ Kemayoran sore itu. Ingin rasanya mengumpat ketika melihat padatnya antrean kendaraan menuju gerbang tol ke bandara. Tak lama aku tersadar, kalau pemandangan seperti ini mungkin tak akan kulihat lagi dalam beberapa tahun ke depan. Ya, hari ini adalah hari-H ... Hari keberangkatan.

Hati rasanya terbelah. Rasa senang pastinya ada, apalagi kalau mengingat perjuangan sejak setahun sebelumnya. Tapi, di setiap keberangkatan, selalu ada perpisahan. Masih terbayang isak tangis mamah minggu lalu, sesaat sebelum aku melangkah ke luar rumah di kampung halaman, dan tentu saja, makan siang terakhir dengan istri tercinta selepas sholat jumat tadi. Masih terbayang wajahnya saat berpamitan, kupandangi terus dirinya ketika melangkah menjauh, kembali ke kantor tempatnya bekerja. Ya Allah ... aku masih ingin bertemu mereka.

Dan tentu saja, Jakarta. Ibukota Republik ini, dengan segudang masalahnya. Tapi, sejelek-jeleknya Jakarta, aku adalah bagian darinya. Sepuluh tahun lebih mengadu nasib di kota ini, menempa diri, merajut mimpi, mulai dari pengangguran, honorer, PNS sampai akhirnya menjadi MEXT awardee. Jakarta adalah salah satu mahaguru kehidupan terbaik yang pernah ada.

Di Jepang nanti, mungkin semuanya serba canggih, teratur dan disiplin. Tapi tak akan ada yang pernah bisa menggantikan Indonesia. Aku akan merindukan suasananya, orang-orangnya, hiruk-pikuknya, suara adzan-nya, dan pastinya, makanan-makanan nusantara yang paling enak sedunia.

Perlahan rasa bimbang itu muncul lagi. Sudah benarkah jalan yang kupilih? Apa yang kucari? Inikah mimpi yang ingin kuraih? Meninggalkan kemapanan yang ada, berjudi dengan nasib yang belum jelas akhirnya, jauh dari istri dan sanak saudara, di negeri asing yang ribuan kilometer jauhnya dari Indonesia.

Tiba-tiba Adzan Magrib mulai berkumandang di mana-mana. Taksi mulai bisa melaju kembali setelah memasuki tol bandara. Aku pun teringat sepenggal doa yang selalu terucap dalam hati, setiap kali selesai ujian monbusho tahun lalu.

"Ya Allah ... bila memang sudah jalan hamba untuk sekolah di Jepang, hamba mohon, mudahkanlah ..."

Ah .. dasar manusia yang tak tahu bersyukur! Sekarang semuanya sudah terkabul, jalan sudah dimudahkan oleh-Nya. Apalagi yang kini kau ragukan? Nikmat Allah yang mana lagi yang mau kau dustakan?? Bukankah hidup itu perjuangan? Bukankah ini yang sejak dulu kau impikan??

Kupandangi lagi tiket pesawat JAL 726 tujuan Narita. Entah berapa ratus orang calon mahasiswa yang harus saling sikut setiap tahun untuk mendapatkannya. Kini, semua sudah ada dalam genggaman. Jadi apa lagi yang harus ditakutkan ?

Berjuanglah habis-habisan. Hanya itu cara yang bisa dilakukan sekarang. Berhasil atau gagal, itu urusan belakangan. Jangan kecewakan orang-orang yang sudah mendoakan keberhasilanmu, termasuk para peserta yang sudah kau sisihkan dalam seleksi monbusho waktu itu.

Tak terasa, taksi telah memasuki terminal 2 keberangkatan bandara Soekarno-Hatta. Kutarik nafas panjang, turun dari taksi dan mulai melangkah masuk ke dalam bandara.

Ini baru awal, bukan akhir segalanya. Besok, insyaAllah aku akan terbangun di belahan bumi yang berbeda, tapi suatu saat nanti aku akan kembali kepadamu, Indonesia.

Man jadda wajada. Man shabara zhafira. Man saara ala darbi washala.

Tuesday, April 12, 2016

Tips Menghadapi Seleksi Beasiswa Research Student Monbukagakusho G-to-G

Konnichiwa !! Halo !!

Tulisan ini khusus diperuntukkan bagi para pembaca yang ingin melanjutkan pendidikan di Jepang dengan beasiswa MEXT atau Monbukagakusho (selanjutnya saya akan menyebutnya "monbusho" saja) via jalur kedutaan besar Jepang atau G-to-G. Kebetulan saat tulisan ini dibuat, pendaftaran beasiswa monbusho untuk keberangkatan tahun 2017 sudah dibuka. Sebagai salah satu alumni penerima beasiswa ini, saya senang bisa berbagi pengalaman dengan orang-orang yang mau berjuang meraih mimpinya untuk melanjutkan studi di Jepang. 

Kali ini, saya hanya akan fokus pada tips untuk mengikuti seleksi beasiswa saja. Jadi bila anda ingin mengetahui informasi lain yang lebih detil, misalnya apa itu beasiswa monbusho, apa yang dimaksud jalur G-to-G, apa fasilitas yang didapat dari beasiswa ini, termasuk persyaratan yang dibutuhkan untuk mendaftar,  silakan buka website informasi beasiswa research student MEXT kedutaan besar Jepang di Indonesia : 


OK. Sebelum membahas seleksi monbusho lebih detil, ada baiknya pembaca memahami hal-hal penting berikut :
  • Seleksi beasiswa dan seleksi penerimaan di universitas adalah dua hal yang berbeda. Jadi, bila anda ingin memperoleh beasiswa monbusho, maka anda juga diharuskan lolos seleksi penerimaan universitas yang dituju. Apabila nantinya tidak lolos seleksi universitas, maka ada kemungkinan beasiswa anda akan dibatalkan.
  • Kedutaan besar Jepang hanya bertanggung jawab untuk seleksi beasiswa monbusho saja. Untuk seleksi penerimaan universitas, anda diharuskan menghubungi langsung universitas (dan supervisor/professor) yang dituju. Bila seleksi universitas mengharuskan anda datang ke Jepang (misalnya untuk wawancara), maka biayanya harus anda tanggung sendiri.
  • Tulisan ini khusus membahas tips seleksi beasiswa monbusho, bukan untuk berbagi contoh form aplikasi atau proposal riset. Bila anda ingin contoh proposal riset, silakan search di internet karena referensinya banyak sekali.
  • Tips-tips pada tulisan ini dibuat berdasarkan proses seleksi beasiswa monbusho yang saya ikuti pada tahun 2015 (keberangkatan tahun 2016). Ada kemungkinan proses seleksinya akan berubah sewaktu-waktu (misal kuota, waktu seleksi, proses ujian dll). Jadi harap maklum kalau misalnya anda membaca tulisan ini pada tahun-tahun mendatang dan menemukan bahwa seleksi beasiswa monbusho berbeda dengan yang saya tuliskan di sini.
Sekarang mari kita bahas tentang seleksi monbusho G-to-G khusus research student (S2/S3). Pada dasarnya, seleksi beasiswa monbusho memiliki 2 tahapan besar yang harus dilalui oleh tiap peserta. Kedua tahapan ini adalah:

A. Primary Screening
Primary screening merupakan seleksi awal yang dilakukan oleh pihak kedutaan besar Jepang di Indonesia. Sesuai namanya, primary screening ini adalah seleksi utama (akan banyak dibahas di sini) yang terbagi dalam beberapa tahap, yaitu :
  • Seleksi berkas/dokumen
  • Ujian tertulis bahasa Inggris dan Jepang
  • Interview/wawancara
Pelamar yang lolos primary screening akan memperoleh sertifikat lolos primary screening dengan cap kedubes yang bisa dipakai untuk mendaftar dan memperoleh LoA (Letter of Acceptance) dari universitas yang diinginkan. Selain itu, pelamar yang lolos juga akan direkomendasikan oleh kedutaan besar Jepang ke pihak MEXT sebagai pihak pemberi beasiswa untuk mengikuti secondary screening.

B. Secondary Screening
Secondary screening adalah seleksi yang dilakukan oleh MEXT, berdasarkan rekomendasi kedutaan besar Jepang. Pada dasarnya, seleksi ini sifatnya lebih ke seleksi dokumen, di mana MEXT akan memastikan bahwa pelamar yang lolos primary screening telah memenuhi seluruh persyaratan beasiswa, misalnya: sudah memiliki LoA dan sehat wal afiat (berdasarkan surat keterangan sehat/health certificate).

Pada tahap ini, pelamar hanya bisa menunggu, menunggu dan menunggu sampai hasil akhir diumumkan oleh MEXT. Kalau anda lolos dari tahap ini, hampir bisa dipastikan anda menjadi penerima beasiswa monbusho.

---

Baik, selanjutnya kita bahas tentang Primary Screening di kedutaan Jepang.

A. PRIMARY SCREENING
1. Seleksi Berkas/Dokumen
Seleksi berkas monbusho pada dasarnya sama dengan seleksi berkas pada umumnya. Pelamar diharuskan mengirimkan berbagai macam berkas ke kedutaan seperti legalisir ijazah, transkrip dll. Pihak kedutaan nantinya akan melakukan seleksi untuk menentukan pelamar yang berhak mengikuti ujian tertulis.

Periode pendaftaran/pengiriman berkas umumnya dimulai pada minggu kedua April, dan ditutup pada minggu terakhir April atau minggu pertama Mei. Hasil seleksi berkas biasanya akan diumumkan sekitar awal Juni.

Berikut beberapa tips untuk seleksi berkas, berdasarkan pengalaman saya:
  • Periode pendaftaran sangat singkat, biasanya hanya 2-3 minggu. Sedangkan untuk memperoleh dokumen seperti legalisir ijazah/transkrip dan sertifikat TOEFL/IELTS/JLPT umumnya butuh waktu 2-8 minggu. Jadi, sebisa mungkin, persiapkan seluruh dokumen yang dibutuhkan jauh-jauh hari sebelum pendaftaran.
  • Nggak usah minder kalo IP (Indeks Prestasi) anda pas-pasan. Selama masih di atas batas minimal (3.0 dari skala 4), anda masih berpeluang lolos seleksi berkas, apalagi kalo TOEFL dan research proposal anda bagus. Sekedar info: IP saya juga sangat pas-pasan waktu mendaftar beasiswa ini.
  • Bila sertifikat TOEFL anda kadaluarsa, masih ada kemungkinan sertifikat tersebut bisa digunakan untuk mendaftar. Memang tidak ada jaminan anda bisa lolos seleksi berkas, tapi tahun lalu saya mengalaminya (sertifikat TOEFL kadaluarsa 1 tahun). Saya bertanya ke pihak kedutaan apakah sertifikat tersebut masih bisa dipakai untuk mendaftar, ternyata bisa, dan saya masih bisa lolos seleksi berkas. Jadi, bila sertifikat TOEFL anda sudah kadaluarsa, nggak usah stress dulu, segera hubungi pihak kedutaan, dan tanyakan apakah sertifikat tersebut masih bisa digunakan untuk mendaftar.
  • Form aplikasi bisa diisi dengan diketik (komputer) atau ditulis tangan. Cara pengisian ini tidak akan mempengaruhi hasil seleksi berkas. Tahun lalu saya mengisi aplikasi dengan diketik. Bila anda mengisi dengan menulis tangan, pastikan tulisannya rapih dan bisa terbaca dengan baik.
  • Aturlah dokumen sesuai yang diinstruksikan oleh pihak kedutaan. Itu artinya, bila anda diminta untuk menempel foto pada form aplikasi, ya benar-benar ditempel fotonya, bukan dicopy paste terus diprint dalam satu kertas. Terus perhatikan urutannya, jangan terbalik-balik. Hal penting lainnya, ukuran kertas. Kalau yang diminta ukuran A4, buatlah semua dokumen dalam ukuran A4. Contoh: Transkrip akademik anda ukurannya A3, maka anda harus melipat transkrip tersebut sehingga ukurannya jadi A4. Ini nggak bercanda lho ya, saya mengalaminya tahun lalu. 
  • Isilah informasi diri anda dengan benar pada form aplikasi, jangan ngarang. Terutama pada bagian: bahasa yang dikuasai, pengalaman kerja dan publikasi ilmiah. Kalo anda ngarang (terutama kemampuan bahasa), nantinya akan ketahuan ketika ujian tertulis dan wawancara. Jadi kalo nggak bisa bahasa Jepang, tulis saja tidak bisa bahasa Jepang.
  • Pada tahap ini, mulailah mencari informasi universitas (dan jurusan) yang ingin diminati, sesuai dengan bidang keahlian anda. Informasi universitas bisa dilihat pada website kedubes Jepang atau langsung ke website universitas yang dinginkan. Periksa daftar professor yang potensial untuk menjadi supervisor anda kelak di universitas tersebut. Mempelajari research interest dari professor juga sangat membantu kita dalam merancang research proposal.
  • Research Proposal (form Field of Study) adalah bagian yang paling penting dan paling menentukan dalam seleksi berkas. Karena dokumen ini harus dibuat dalam bahasa Inggris (atau Jepang), maka persiapkanlah research proposal dengan baik, jangan SKS (deadline besok, bikinnya malam ini).
  • Jelaskan target waktu riset secara detil dan spesifik pada research proposal anda, misal tahun pertama untuk kursus bahasa dan pengumpulan data, nanti tekniknya gimana, tahun kedua mulai pengolahan data dan analisis pakai metode apa, dan seterusnya.
  • Tulislah research proposal dengan gaya anda sendiri, nggak usah takut salah grammar dan sebaiknya, nggak perlu meniru gaya penulisan dari contoh-contoh yang banyak bertebaran di internet. Pemeriksa umumnya akan tahu, mana research proposal yang benar-benar dibuat sendiri dan yang mana yang cuma sekedar meniru contoh di internet. Buat sedetil mungkin, tapi lugas dan tidak bertele-tele. Hindari kata-kata bias (contoh: "riset ini dilakukan untuk mengembangkan teknologi prediksi cuaca di Indonesia" <---- nggak jelas, teknologi prediksi yg bagaimana ????), sebisa mungkin pakai ungkapan yang spesifik, kalo perlu pakai deskripsi yang mudah dimengerti (contoh: "bila sistem prediksi cuaca diibaratkan sebagai mobil, maka model prediksi adalah mesin, sedangkan skema parameterisasi berperan sebagai onderdilnya").
Komentar tambahan :
Bagi saya, seleksi berkas adalah tahapan yang paling sulit dari seleksi beasiswa monbusho. Dari tiga kali seleksi, saya gagal dua kali di tahap ini. Kemungkinan besar penyebabnya ada pada research proposal yang kurang dipersiapkan dengan baik. Selain itu, dari ratusan (atau mungkin ribuan) pelamar, hanya kurang lebih 100 orang yang akan lolos tahapan ini. Jadi, secara matematis, peluang lolos seleksi berkas akan lebih kecil dibandingkan dua seleksi lainnya (tes tertulis dan wawancara).


2. Ujian Tertulis Bahasa Inggris dan Jepang
Seleksi tertulis adalah tahapan berikutnya setelah anda lolos seleksi berkas monbusho. Pada tahapan ini, anda akan mengikuti dua ujian secara berurutan di hari yang sama, yaitu bahasa Inggris dan Jepang. Waktunya masing-masing kalau tidak salah, 1 jam untuk bahasa Inggris dan 2 jam untuk bahasa Jepang, dan dilakukan serentak di lima lokasi: Jakarta, Medan, Surabaya, Denpasar dan Makassar. Seingat saya, lokasi ujian bisa dipilih oleh peserta dengan memberi konfirmasi ke pihak kedubes Jepang, tentunya setelah dinyatakan lolos seleksi berkas. Karena saya berdomisili di Jakarta, maka lokasi ujian saya waktu itu adalah di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Depok.

Ujian tertulis biasanya dilakukan pada minggu kedua Juni dan hasilnya sudah diumumkan paling lama seminggu kemudian.

Berikut beberapa tips untuk ujian tertulis :
  • Unduh dan kerjakan soal monbusho tahun-tahun sebelumnya yang ada di website kedubes Jepang atau sumber lain di internet sebagai latihan. Beberapa soal memiliki format dan bobot yang berbeda. Jadi, kenali polanya, ulangi dan periksa lagi skor anda. Bila nilai maksimalnya 100, usahakan mendapatkan skor lebih besar dari 75 atau 80.
  • Tidak perlu galau kalau anda nggak bisa bahasa Jepang. Yang diperhitungkan dalam ujian tertulis adalah nilai tertinggi. Jadi kalau nilai ujian bahasa Inggris anda tinggi, maka nilai bahasa Inggris lah yang akan diperhitungkan, demikian pula sebaliknya. Jadi lebih baik fokus ke salah satu ujian daripada setengah-setengah. Tentu saja, kalau anda menguasai bahasa Inggris dan Jepang sekaligus, itu akan jadi nilai tambah untuk bisa lolos ujian ini. Saya sendiri memilih fokus ke ujian bahasa Inggris, dan (nyaris) tidak mengerjakan satu pun soal bahasa Jepang. Hasilnya ? Saya lolos ujian tertulis.
  • Untuk ujian tertulis bahasa Inggris, bentuknya hampir sama dengan test TOEFL tertulis (PBT). Jadi silakan latihan TOEFL sering-sering sebelum ujian.
  • Pastikan anda mengetahui lokasi dan waktu ujian tertulis, dan jangan sampai telat. Kalau bisa, 1 jam sebelum ujian anda sudah nongkrong di lokasi. Jangan lupa juga membawa kartu identitas seperti KTP atau SIM.
  • Ujian tertulis dilakukan langsung, tanpa istirahat. Setelah ujian bahasa Inggris selesai, langsung disambung bahasa Jepang. Jadi pastikan anda sudah sarapan sebelumnya. Jangan sampai kelaparan terus ga konsen ngerjain ujiannya.
  • Untuk peserta yang ujian di UI (Depok), sebaiknya bawa jaket karena AC di ruang ujiannya nggak bisa diatur (AC sentral), dan dinginnya nggak tanggung-tanggung.
  • Pastikan anda mematikan seluruh alat komunikasi dan benda apapun yang mengeluarkan bunyi sebelum ujian dimulai (termasuk jam). Bila terdengar bunyi sedikit saja dari benda-benda tersebut ketika ujian berlangsung, maka ujian akan langsung dihentikan dan lembar jawaban (semua peserta) dikumpulkan. Selesai nggak selesai dikumpul. Aturan yang mengerikan, tapi ini beneran.
  • Jangan pernah memposting soal-soal yang diujikan hari itu ke internet atau medsos, seperti FB, Twitter dan sebangsanya. Ujian tertulis tidak hanya dilakukan serentak di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Jadi walaupun di Indonesia ujian sudah selesai, bisa jadi ujian di negara lain belum dilakukan. Kalau sampai anda ketahuan memposting soal ujian ke internet, anda akan langsung dinyatakan gugur.
  • Pada tahap ini, mulailah menghubungi professor di universitas tujuan, misal via email. Perkenalkan diri baik-baik dan jelaskan pula maksud kita menghubungi beliau. Jangan lupa informasikan bahwa kita sedang mengikuti seleksi beasiswa monbusho, dan yang paling penting, tanyakan apakah beliau bersedia menerima kita sebagai calon mahasiswanya. Professor umumnya akan sangat senang menerima mahasiswa, apalagi yang mendapat beasiswa seperti monbusho. Bila diminta, kirimkan proposal riset anda ke professor.
Komentar tambahan :
Dari pengalaman saya, ujian tertulis ini adalah yang paling mudah di antara seleksi monbusho lainnya, karena referensinya banyak di internet, mulai dari contoh soal sampai blog dari para alumni monbusho sebelumnya. Dari sekitar 100 peserta ujian tertulis, yang lolos kurang lebih ada 50 orang. Jadi dibandingkan seleksi berkas, peluang lolos ujian tertulis jauh lebih besar. 

3. Interview/Wawancara
Wawancara adalah ujian terakhir dari primary screening yang dilakukan kedutaan. Wawancara untuk peserta yang lolos tes tertulis tidak dilakukan serentak, tapi dibagi menjadi beberapa hari, biasanya 1-2 minggu. Dalam satu hari ada 3 jadwal wawancara: pagi, siang dan sore, dan dalam satu jadwal, biasanya akan ada 3-4 peserta yang mengikuti wawancara.

Periode wawancara biasanya awal Juli, dan hasilnya diumumkan 2 minggu kemudian.

Pada kasus saya, jadwal wawancara saya pagi (sekitar jam 9) beserta 3 peserta lainnya. Kami 'digiring' masuk ke dalam suatu ruang tunggu, lalu dipanggil satu demi satu untuk wawancara. Waktu wawancara untuk tiap orang bisa bervariasi, umumnya 15-30 menit untuk tiap orang. Pewawancara terdiri dari 4-5 orang, biasanya 2 orang Indonesia dan 2 (atau 3) orang Jepang. Beliau-beliau ini umumnya adalah dosen/professor universitas, alumni penerima beasiswa monbusho dan staf bagian pendidikan kedubes Jepang.

Berikut beberapa tips untuk mengikuti wawancara monbusho :
  • Pahami kembali topik/tema penelitian yang anda tuliskan pada research proposal ketika mendaftar. Tujuan utama wawancara sebenarnya bukan untuk melihat seberapa jago kemampuan bahasa Inggris atau bahasa Jepang anda, tetapi seberapa siap anda untuk menempuh studi di Jepang. Dua orang peserta yang wawancara bersama saya sudah mahir berbahasa Jepang, dan mereka gugur di tahap ini.
  • Cara paling mujarab untuk mengatasi grogi (selain berdoa) adalah dengan berlatih. Jadi sering-seringlah berlatih wawancara sebelumnya, bisa sendiri atau dengan teman. Kalo saya dulu sampai merekam latihan saya dengan webcam.
  • Hal pertama yang akan diminta pewawancara adalah memperkenalkan diri anda. Ini hal yang biasa dilakukan dalam wawancara, dan biasanya kalau kita bisa melaluinya dengan baik, wawancara selanjutnya juga akan lancar. Untuk perkenalan ga ada tips khusus, cuma kalau bisa, ceritakan diri kita secara professional, misalnya nama, lulusan dari universitas mana, pekerjaan, dan research interest. Nggak perlu cerita soal nama orang tua, kakak, adik dan sebagainya. Perkenalan nggak perlu lama-lama, 1 menit cukup.
  • Bagian paling penting dalam wawancara adalah menceritakan riset/studi kita. Latihlah bagian ini dengan baik sebelum wawancara. Kalau perlu persiapkan slide presentasi di kertas untuk membantu pewawancara memahami tema riset kita. Dengan mempersiapkan slide, kita bisa menunjukkan ke pewawancara kalau kita memang siap dan serius untuk melakukan riset tersebut.
  • Buatlah daftar pertanyaan yang kira-kira akan muncul ketika wawancara, dan berlatihlah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jadi kalau nanti ditanya, kita sudah siap dan nggak gagap lagi.
  • Pewawancara umumnya akan menanyakan apakah kita sudah pernah mengontak professor sebelumnya. Jadi, siapkan juga print-out hasil komunikasi via email antara kita dengan professor yang bisa diperlihatkan pada saat wawancara.
  • Datanglah tepat waktu dan berpakaianlah yang rapi untuk wawancara. Bisa pakai setelan jas, kemeja atau batik, dan bersepatu.
Komentar tambahan :
Wawancara pada dasarnya nggak terlalu susah, asalkan kita sudah siap mental. Kalau sudah sampai tahap ini, peluang untuk lolos dari primary screening terbuka lebar. Dari 50 orang peserta wawancara, yang lolos dari tahap ini ada 35 orang, jadi peluang lolosnya paling besar dibandingkan dibandingkan kedua ujian sebelumnya.


B. SECONDARY SCREENING
Ketika kita sudah lolos seleksi wawancara, maka kita juga dinyatakan lolos primary screening kedutaan, dan berhak mengikuti secondary screening MEXT. Kalau sudah sampai tahap ini, bisa dibilang peluang kita memperoleh beasiswa sudah 80%. Dari pengalaman-pengalaman penerima beasiswa monbusho sebelumnya, jarang sekali ada yang gagal di tahap ini. Kalaupun ada, biasanya karena mengundurkan diri akibat satu atau lain hal, misalnya sudah diterima di program beasiswa lain.

Pada dasarnya, peserta hanya diminta untuk melengkapi beberapa dokumen tambahan sebagai syarat secondary screening. Seluruh dokumen ini nantinya akan dikirimkan oleh kedutaan Jepang ke MEXT, dan peserta akan diminta menunggu hasil pengumuman akhir dari MEXT.

1. Meminta LoA dari Universitas
Setelah lolos wawancara, kita akan diminta mengambil salinan form aplikasi dan berbagai dokumen yang dulu kita kirim ke kedutaan pada saat mendaftar. Dokumen-dokumen ini sudah diberi stempel kedutaan yang menunjukkan kita sudah lolos primary screening. Kita juga akan diberi sertifikat lolos primary screening oleh kedutaan. Semua dokumen ini nantinya bisa digunakan untuk mendaftar dan meminta LoA dari universitas di Jepang.

Nah, untuk pendaftaran dan LoA, prosesnya bisa bervariasi antara satu universitas dengan yang lainnya. Kalau professor sudah mau menerima kita sebagai mahasiswanya, biasanya LoA akan cepat kita peroleh. Ada juga yang ribet, misalnya keputusan diterima atau tidaknya harus ditentukan lewat rapat fakultas, wawancara dan sebagainya. Yang perlu diperhatikan, kita hanya diberi waktu 1-2 bulan untuk menyetor LoA ke kedutaan. Itu sebabnya, komunikasi dengan professor/universitas sebaiknya sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya.

Template LoA sudah disediakan oleh pihak kedutaan, jadi kita tinggal mengirimkannya ke professor/universitas yang dituju untuk ditandatangani dan diberi cap universitas. Beberapa universitas, University of Tokyo misalnya, memiliki format LoA sendiri, jadi nggak perlu bingung kalau LoA yang kita dapat berbeda dengan template dari kedutaan.

Kita dipersilahkan mengirimkan maksimal 3 LoA ke kedutaan (minimal 1 LoA). Dari ketiga LoA tersebut, nantinya kita akan diminta memilih, mana yang menjadi prioritas pertama, kedua dan ketiga, dengan menggunakan form university preference.

2. Membuat Surat Keterangan Sehat (Health Ceritifcate)
Untuk health certificate, template formnya juga sudah disiapkan oleh kedutaan, jadi tinggal kita bawa ke rumah sakit untuk diisi oleh dokter. Kalau bikinnya di RSCM, langsung aja ke bagian MPK (Majelis Pemeriksa Kesehatan), bilang aja mau bikin surat keterangan sehat untuk beasiswa, nanti petugasnya sudah ngerti.

Untuk mengisi form health certificate ini, kita harus melakukan medical checkup seperti tes darah, urine, rontgen, tes penglihatan, jantung dan lain-lain. Prosesnya juga cepat, biasanya kurang dari seminggu kita sudah dapat form certificate yang sudah diisi, ditandatangani dan diberi stempel rumah sakit.

Biaya untuk medical checkup bisa bervariasi untuk tiap rumah sakit, tapi siapkan saja dana antara 500 ribu - 1 juta rupiah.

3. Mengirim (Ulang) Aplikasi Monbusho ke Kedutaan
Pada dasarnya, secondary screening adalah seleksi dokumen. Jadi kita akan diminta mengisi kembali form aplikasi beasiswa dan field of study (seperti ketika mendaftar sebelumnya) dan mengirimkannya ke kedutaan. Form aplikasi ini nantinya akan dikirimkan ke pihak MEXT untuk diverifikasi.

Kita bisa memperbaiki form aplikasi dan field of study (research proposal), kalau misalnya sebelumnya ada typo atau salah tulis ketika dulu mendaftar, tapi jangan mengubah research interest atau tema studi kita. Contoh kasus, ternyata setelah komunikasi dengan professor, tema riset kita berubah, maka biarkan saja tema sebelumnya yang tertulis di form aplikasi. Nanti, kita masih bisa mengubah tema riset kalau sudah menjadi mahasiswa di universitas.

Kalau semua sudah lengkap, kirimkan seluruh dokumen (aplikasi, LoA dan health certificate) ke kedutaan sebelum deadline.

Setelah itu ngapain ? Ya kita tinggal menunggu hasil pengumuman akhir dari MEXT, dan ini bisa makan waktu berbulan-bulan. Saya dulu mengirimkan seluruh dokumen pada bulan September, dan pengumuman lulus secondary screeningnya baru bulan Desember, sedangkan penempatan universitasnya diumumkan bulan Januari.

Kalau kita sudah menerima pengumuman penempatan universitas, maka 100% kita sudah dinyatakan lolos seleksi beasiswa monbusho, dan kita akan diminta mempersiapkan beberapa dokumen (visa, pledge dll) sebelum keberangkatan pada awal bulan April.

---------

Demikianlah sekelumit cerita saya untuk tips-tips menghadapi seleksi beasiswa monbusho. Pada saat tulisan ini dibuat, saya baru genap dua minggu berada di Jepang, tepatnya di Kashiwa campus, University of Tokyo. Walaupun sudah pernah beberapa kali ke Jepang, banyak hal baru yang sangat berkesan buat saya. Salah satunya adalah, datang ke Jepang ketika bunga sakura mulai bermekaran di mana-mana.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca, dan khusus untuk para pemburu beasiswa monbusho, semoga kita bisa bersua tahun depan di Jepang, sebagai sesama mahasiswa penerima monbusho. Tetap semangat, terus berusaha, jangan lupa berdoa dan semoga berhasil menghadapi rangkaian seleksi beasiswa ini.

Ganbatte !!