Monday, August 17, 2015

Meteo #19 - El Nino, Indian Ocean Dipole dan Kekeringan di Indonesia

El Nino 2015 telah sukses mencatatkan dirinya sebagai El Nino terkuat sejak tahun 1997/1998. Begitu kuatnya, sampai NOAA (lembaga nasional administrasi laut-atmosfer USA) menjulukinya 'Bruce Lee'-nya El Nino. Sebagian pakar iklim lainnya malah membanding-bandingkannya dengan 'Godzilla', akibat kerusakan yang berpotensi ditimbulkannya. Lalu sampai sejauh manakah dampak El Nino tahun ini bila dibandingkan dengan El Nino 1997/1998 ?


Kekuatan El Nino umumnya diukur berdasarkan beberapa parameter fisis, misalnya suhu muka laut (SST), terutama di wilayah Samudera Pasifik Tengah-Timur. Bila SST di wilayah ini lebih hangat dibandingkan Pasifik Barat, maka tekanan udara akan lebih rendah dan massa uap air akan 'tertarik' ke Pasifik Timur, meninggalkan Pasifik Barat dalam keadaan kering. Tingginya SST juga akan menyebabkan penguapan lebih mudah terjadi. Analoginya sama dengan panci berisi air yang dipanaskan. Tentunya lebih mudah mendidihkan/menguapkan air yang sudah hangat dibandingkan air dingin. Pada saat penguapan meningkat inilah, Pasifik Timur menjadi lebih basah, hujan dan badai pun lebih sering terjadi, yang berpotensi menyebabkan banjir dan longsor di wilayah Amerika Tengah dan Selatan. Sementara kondisi sebaliknya terjadi di wilayah Pasifik Barat, kering kerontang yang berpotensi memicu kemarau panjang.

Hingga tulisan ini dibuat, anomali SST di wilayah Pasifik Tengah-Timur (umumnya disebut wilayah NINO3.4), makin meningkat dan mulai mendekati pola El Nino tahun 1997/1998 yang konon merupakan El Nino terkuat dalam sejarah. Beberapa model prediksi bahkan menunjukkan bahwa El Nino 2015 berpotensi melampaui El Nino 1997/1998.


Lalu bagaimana pengaruhnya terhadap Indonesia ?

Tak bisa dipungkiri, El Nino merupakan salah satu fenomena iklim yang menyebabkan anomali cuaca global, termasuk Indonesia. Sejak pertengahan tahun ini, berbagai media sudah ramai memberitakan ancaman kemarau panjang yang dipicu El Nino. Namun, apakah El Nino patut dijadikan kambing hitam atas kemarau yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia ?

Perlu dipahami bahwa cuaca di Indonesia sangat dinamis. Hal ini tidak hanya dikarenakan posisi Indonesia yang berada di khatulistiwa, namun juga disebabkan oleh karakter topografi, perairan dan wilayahnya yang luas sebagai benua maritim. Interaksi berbagai fenomena atmosfer seperti Monsun, MJO (Madden Julian Oscillation), IOD (Indian Ocean Dipole), El Nino dan lain-lain menyebabkan cuaca di benua maritim relatif sukar diprediksi secara detil. Bila suatu daerah di Indonesia mengalami kemarau, belum tentu daerah lain bernasib sama. Kemarau di Jawa dan hujan es di Sumatera utara di saat yang bersamaan menjadi contoh bahwa kekeringan tidak berlaku untuk untuk seluruh wilayah Indonesia. Hingga saat ini, pengaruh monsun yang memicu musim hujan dan kemarau di Indonesia masih relatif dominan dibandingkan El Nino. Bila Indonesia bagian selatan mengalami kekeringan, maka Indonesia bagian utara masih relatif basah, dan ini adalah hal yang wajar.
El Nino 1997/1998 memang menjadi salah satu penyebab terjadinya kemarau panjang di sebagian besar wilayah Indonesia. Namun perlu dicatat bahwa kekeringan parah yang terjadi saat itu tidak semata-mata dipacu El Nino, karena El Nino lebih banyak berpengaruh pada wilayah Indonesia yang berdekatan dengan Samudera Pasifik seperti Papua, Maluku dan sekitarnya.

Wilayah barat Indonesia, seperti Jawa dan Sumatera, akan lebih dipengaruhi fenomena atmosfer di Samudera Hindia, seperti Indian Ocean Dipole (IOD). IOD ini pada dasarnya mirip dengan El Nino, karena terjadi di Samudera Hindia, sehingga biasa disebut sebagai 'Indian Nino'. Pada tahun 1997, terjadi IOD positif, suatu kondisi di mana SST di Samudera Hindia barat (Afrika) lebih hangat dibandingkan Samudera Hindia Timur (Sumatera). Akibatnya sama seperti El Nino, hanya lokasinya berbeda, di mana massa uap air akan 'lari' dari Indonesia bagian barat menuju Afrika. Di sisi lain, pada saat yang nyaris bersamaan, El Nino menyebabkan kekeringan di Indonesia bagian timur. Kombinasi El Nino dan IOD positif inilah yang memicu terjadinya kemarau panjang di Indonesia pada tahun 1997. Sayangnya, dibandingkan 'saudara tuanya' (El Nino), IOD ini baru dikenal melalui publikasi Prof. N. H. Saji dkk pada jurnal ilmiah 'Nature' tahun 1999, sehingga reputasinya masih kalah beken dibandingkan El Nino.

Tahun ini, walaupun El Nino diprediksi menguat, namun IOD masih relatif netral. SST di Samudera Hindia cenderung fluktuatif, sehingga hujan masih mungkin terjadi di beberapa wilayah, termasuk Jawa yang notabene sudah memasuki musim kemarau. Efek El Nino sendiri umumnya baru bisa dikonfirmasi menjelang akhir tahun. Dengan demikian, masih terlalu dini untuk menuduh El Nino sebagai pemicu kemarau dan kekeringan di Indonesia.

Tentunya kita berharap El Nino tahun ini tidak dibarengi IOD positif seperti halnya 19 tahun silam. Yang terpenting, tetap tenang dan tidak perlu panik. Setidaknya, fenomena iklim seperti El Nino dan IOD bisa menjadi pelajaran buat kita untuk lebih memahami dan menghargai alam, seperti yang pernah disampaikan Albert Einstein kepada salah satu sahabatnya :

"Look deep into nature, and then you will understand everything better"

Saturday, August 15, 2015

Hal-hal Unik Pada Seleksi Beasiswa Monbukagakusho

Beasiswa Monbukagakusho alias monbusho atau MEXT merupakan salah satu beasiswa yang paling populer, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Reputasi internasional yang tinggi, jaminan finansial perkuliahan serta tidak adanya ikatan dinas membuat beasiswa ini banyak menjadi incaran pelajar dan mahasiswa yang berminat melanjutkan pendidikannya di Jepang.

Seperti halnya beasiswa-beasiswa luar lainnya, seorang applicant (pelamar beasiswa) harus melewati serangkaian ujian untuk bisa memperoleh beasiswa monbusho. Proses seleksinya kurang lebih sama dengan beasiswa lain, mulai dari seleksi dokumen, ujian tertulis sampai wawancara. Alhamdulillah, hingga tulisan ini dibuat, saya sudah sampai ke tahap Secondary Screening yang merupakan tahap akhir seleksi beasiswa monbusho. Sambil menunggu hasil pengumuman akhir, bolehlah saya share beberapa pengalaman unik yang baru kali ini saya temui ketika melalui seleksi Primary Screening beasiswa monbusho via kedutaan (Embassy Recommended/G-to-G) untuk research student 2016.

Semoga bisa bermanfaat buat teman-teman yang berminat mendaftar beasiswa ini untuk tahun-tahun berikutnya :-)

Sertifikat TOEFL Kadaluarsa Masih Bisa Digunakan Untuk Seleksi Dokumen
Seleksi dokumen biasanya adalah tahapan paling awal dari suatu aplikasi beasiswa. Umumnya, pihak pemberi beasiswa akan meminta sertifikat TOEFL yang masih berlaku (< 2 tahun) sebagai salah satu syarat aplikasi. Masalahnya, butuh waktu yang tidak sebentar untuk memperoleh sertifikat TOEFL ini, terutama bila anda mengambil test TOEFL iBT. Untuk iBT, setidaknya butuh waktu minimal 3-4 minggu sejak pendaftaran test, sampai kita bisa memperoleh salinan sertifikat TOEFL dalam format PDF. Belum lagi fisik, mental dan DUIT yang harus terkuras demi selembar sertifikat tersebut.

Tak heran, para applicant yang sertifikat TOEFLnya sudah kadaluarsa (termasuk saya) akan mengalami kegalauan tingkat tinggi karena periode pendaftaran beasiswa umumnya sangat singkat. Untungnya, monbusho tidak mensyaratkan sertifikat TOEFL yang masih berlaku untuk seleksi dokumen. Hal ini memang tidak tercantum di pengumuman. Artinya, anda bisa menggunakan sertifikat yang sudah kadaluarsa untuk mendaftar. Saya sendiri menggunakan sertifikat TOEFL iBT tahun 2012 (expired 2014), tentunya setelah meminta konfirmasi dari pihak kedutaan Jepang via email. Berita baik lainnya, sertifikat kadaluarsa ini masih bisa meluluskan saya ke tahap ujian berikutnya.

Lipat/Bentuk Dokumen Apapun ke Ukuran A4
Salah satu cacatan penting yang selalu ditekankan pihak kedutaan pada pelamar monbusho adalah : mengirimkan seluruh dokuman aplikasi dalam ukuran A4. Tentu tak ada masalah dengan hal ini, kecuali kalau dokumen yang akan anda kirim ukurannya bukan A4, dan saya yakin hal yang sama juga dialami dengan teman-teman lulusan UI. Untuk transkrip nilai UI, ukurannya lembarannya lebih besar dari A4 karena transkrip ini memang didesain untuk dilipat menjadi 4 halaman kecil. Masalahnya, bila dilipat menjadi 4 halaman, tetap saja ukurannya bukan A4.

Solusinya ? Saya berkonsultasi dengan pihak kedutaan, dan ini balasannya :
Dear Ardhi,

Silahkan anda lipat dengan rapi disesuai dengan ukuran A4.

Regards,
Dan akhirnya, beginilah rupa transkrip nilai yang saya lipat sebelum dikirimkan ke kedutaan untuk seleksi dokumen.

  
Lembar Jawaban Yang Nyaris Kosong Pada Ujian Bahasa Jepang
Untuk beasiswa monbusho research student, ada dua jenis ujian tertulis yang harus diikuti peserta yang lulus seleksi dokumen : bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Pihak kedutaan sudah menginfokan bahwa nilai tertinggi dari kedua ujian ini yang akan dipertimbangkan untuk bisa lulus ke tahap berikutnya. Artinya, bila nilai bahasa Inggris anda tinggi sedangkan bahasa Jepang jeblok, maka nilai bahasa Inggris-lah yang akan dipertimbangkan. Tentunya peluang lulus akan lebih besar bila nilai bahasa Jepang juga tinggi. Nah, kalo nggak bisa ngerjain test bahasa Jepang sama sekali, apa masih bisa lulus ? Untuk kasus saya, hanya 5 (lima) dari sekian puluh soal bahasa yang Jepang yang bisa saya jawab, itupun untuk level SD (elementary), dan saya nggak tau jawaban saya benar atau nggak. Sisanya blank, kecuali untuk kolom nama, nationality dan nomor ujian, lembar jawaban saya nyaris bersih dari tulisan. Hasilnya ? Saya masih bisa lulus tes tertulis.

Jam Dilarang Berbunyi Ketika Tes Tertulis Monbusho
Dilarang membawa HP ketika sedang ujian tertulis ? Itu mah biasa. HP dilarang bersuara ketika ujian ? Itu juga sudah biasa. Tapi bagaimana bila pengawas ujian mengatakan, sedikit saja terdengar ada bunyi JAM (beep, alarm dlsb), ujian akan langsung dihentikan seketika itu juga ? Dihentikan total. Selesai ga selesai dikumpul. 

Jadi, demi masa depan anda dan peserta lainnya, pastikan jam (jam tangan, weker dll) tidak mengeluarkan bunyi sedikitpun sebelum melakukan test tertulis. Kalau anda merasa agak-agak parno, lebih baik matikan saja jam anda dan simpan di dalam tas. Resiko ditanggung sendiri ya.

Wawancara Sebelum Waktunya Wawancara
Ini pengalaman pribadi, dan mungkin bisa bervariasi pada tiap peserta yang 'selamat' sampai ke tahap ujian wawancara. Di hari penting itu, saya datang lebih awal (terlalu awal malah) ke kedutaan Jepang untuk mengikuti ujian wawancara. Kebetulan pada saat yang sama, ada test tertulis untuk monbusho lulusan SMA, jadi banyak peserta (umumnya ABG) antre di depan kedutaan. Suasananya agak hiruk-pikuk, sampai petugas security perlu mengecek tampang saya beberapa kali sebelum memastikan kalau saya adalah peserta untuk tingkat research student, bukan SMA (Alhamdulillah Yaa Allah, tampang saya masih sulit dibedakan dengan anak SMA). 

Setelah diarahkan petugas ke pintu masuk yang berbeda dengan peserta SMA, saya sampai ke satu ruangan yang mirip ruang tamu. Karena kepagian, saya pun dipersilakan menunggu di ruang bersofa tersebut sebelum wawancara dimulai. Selang beberapa menit kemudian, ada beberapa orang yang juga masuk, kelihatannya tamu kedutaan. Saya mulai celingak-celinguk, ngeliatin apa ada peserta wawancara lainnya. Tak lama kemudian, seorang pria tampan masuk ke ruangan dan dengan ramah menyapa saya. Karena sama-sama berpakaian batik, kami pun ngobrol santai tentang keperluan masing-masing. Saya sempat ditanya-tanya kenapa ikut beasiswa monbusho, kenapa bisa nggak lulus seleksi sampai 4 kali, lulusan universitas mana, apa tema riset saya dan lain-lain. Saya baru mulai ngeh ketika pria itu mengaku sebagai dosen ITB dan beliau enggan ditanyai mengenai keperluannya datang ke kedutaan. Benar saja, ketika saya dipanggil wawancara, ternyata bapak tersebut adalah salah satu pewawancara saya. Dan entah, mungkin karena sudah 'diwawancarai' sebelumnya, proses ujian wawancara saya jadi jauh lebih santai dan lancar. 

Pelajaran moralnya : Bila ingin wawancara lancar, pakailah batik dan datanglah lebih pagi ke lokasi ujian.

Deadline Yang Fleksibel (update : 1 Oktober 2015)
Periode perburuan LoA adalah masa-masa yang cukup menegangkan. Situasinya akan makin menegangkan kalau LoA yang dinanti belum juga datang menjelang deadline. Pada kasus saya, salah satu LoA baru bisa diterima melewati deadline karena pihak universitas juga punya jadwal tersendiri untuk merilis LoA (yang berbeda dengan jadwal kedubes Jepang). Setelah berkonsultasi dengan pihak universitas dan kedubes, akhirnya saya masih diperbolehkan mengirimkan LoA ke kedubes melebihi deadline dengan catatan menyertakan bukti/print out korespondensi dengan pihak universitas via email.

Memperbaiki/Mengganti Dokumen Yang Sudah Diserahkan (update : 1 Oktober 2015)
Saya mengalaminya dua kali.

Yang pertama, ketika aplikasi kedua monbusho (untuk secondary screening). Saya mah orangnya agak ceroboh dan ga sabaran, terutama ketika mengisi formulir aplikasi monbusho yang njelimet itu, dan konyolnya, baru ngeh akan typo dan kesalahan penulisan lainnya ketika dokumen sudah dikirimkan ke kedubes. Untungnya, pihak kedubes masih berbaik hati memberikan saya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tersebut dengan datang langsung ke loket bagian pendidikan kedubes.

Yang kedua, ketika saya merevisi LoA dan preference form yang sudah diserahkan ke kedutaan untuk secondary screening. Peraturan MEXT menyebutkan bahwa tiap pelamar bisa mengirimkan maksimal 3 LoA. Berhubung saya mendapat 4 LoA, maka saya harus meng-eliminasi salah satu LoA dari daftar, termasuk mengubah isi preference form yang sudah diserahkan ke kedubes. Alhamdulillah, saya masih diperbolehkan merevisi dokumen-dokumen tersebut di kedubes Jepang.

Wednesday, July 15, 2015

Cerita Monbukagakusho #4 - The Interview - Part 1

24 Juni 2014.

Galau. Keceriaan setelah lolos seleksi tertulis Monbusho mendadak hilang setelah pesan WA dari Pak Erwin, Kapok (Ketua Kelompok) saya masuk.

"Ardhi, kamu berangkat ke Banjar tanggal 4 Juli ya, aplusan posko."

Tanggal 9 Juli kan saya wawancara. Gimana pula ini ? Kalau sudah di lapangan, nggak mungkin bisa ijin pulang. Saya harus ngomong ke kapok dan kasubag kepegawaian tentang jadwal wawancara Monbusho. Kalau nggak, habis sudah perjuangan selama ini. Udah bela-belain kedinginan sampe 3 jam, udah nggak bisa ngerjain tes Bahasa Jepang (???), masa sih nggak ikut wawancara juga.

Setelah negosiasi yang lumayan alot (menurut versi saya), Alhamdulillah, kapok sangat pengertian dan akhirnya saya diijinkan berangkat lebih awal, tanggal 29 Juni - 8 Juli, supaya bisa ikut wawancara esoknya. Terima kasih Pak Erwin .. ^o^

--------

4 Juli 2014.

Posko hujan buatan di Banjarbaru ternyata tutup lebih cepat, alhasil saya bisa kembali ke Jakarta empat hari sebelum jadwal wawancara. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, saya pun mulai berlatih wawancara. Tahapan ini adalah yang paling krusial dari seluruh proses primary screening, dan saya orangnya rada grogian, jadi nggak terlalu suka sama yang namanya interview.

Dari 98 orang peserta yang ikut tes tertulis, 52 orang lulus dan berhak ikut tes wawancara. Dan konon, yang akan lulus dari tes ini ada 35 orang. Artinya, peluang lulusnya lumayan besar. Saya nggak boleh membuang kesempatan emas ini, dan seperti sebelumnya, referensi utama saya adalah blog para 'alumni' Monbusho. 

Dari pengalaman para sesepuh beasiswa tersebut, peserta akan menghadapi 5 orang pewawancara, yang biasanya terdiri dari 3 orang Indonesia dan 2 orang Jepang. Dan hal pertama yang akan diminta pewawancara adalah self introduction. Kita diminta menceritakan tentang diri kita. Nah, ada beberapa versi tips yang disarankan para sesepuh. Ada yang menyarankan kita bercerita apa adanya, mulai dari nama, kota kelahiran, keluarga, pekerjaan dan hobi. Versi lain menyarankan agar kita lebih professional, cukup ceritakan tentang diri, pekerjaan, kompetensi dan target kita, dalam 1 menit saja. Lebih dari itu, katanya pewawancara tidak tertarik lagi. Saya putuskan memilih strategi kedua.

Setelah perkenalan diri, konon porsi terbesar dari wawancara adalah tentang rencana riset. Oleh karena itu, para sesepuh menyarankan agar kita membuat semacam list pertanyaan yang kemungkinan akan ditanyakan oleh pewawancara, dan kita berlatih menjawabnya. Tujuannya, supaya kita tidak gagap lagi ketika menjawab. Tips yang sangat masuk akal. 

Terakhir, sesepuh juga menyarankan agar kita menyiapkan semacam outline presentasi di kertas yang bisa diperlihatkan kepada pewawancara agar tema riset kita bisa lebih mudah dipahami. Ini juga bisa menjadi nilai plus buat kita, karena akan menunjukkan kalau kita siap dan serius ingin belajar di Jepang. Ya ... ya ... saya juga sependapat. 

Saya pun mulai berlatih di dalam ruang server. Selain agar bisa lebih berkonsentrasi, strategi ini juga berguna untuk menghindari kesalahpahaman rekan kerja, jadi kita nggak dikira sinting kalo komat-kamit sendiri. Supaya lebih afdol, saya putuskan merekam latihan saya dengan webcam laptop.


Rekaman pertama, saya terkesiap. Itu yang ngomong beneran saya ? Wajar dulu saya pernah gagal wawancara ... wong ngomongnya masih belepotan kayak gitu. Wah, ini perlu latihan lebih banyak.

Rekaman kedua, ketiga dst, saya mulai terbiasa mengatur mimik wajah dan intonasi suara. Self introduction akhirnya mulai lancar dan bisa beres dalam 1 menit. Setelah itu, saya bisa berlatih pertanyaan-pertanyaan yang sudah saya buat sendiri.

Hari rabu,  8 Juli, setelah sholat dan membaca beberapa lembar Al-Quran, saya pulang lebih cepat (karena Ramadhan) dan menyudahi latihan wawancara. Saya ingin rileks dan santai sejenak sebelum wawancara besok.

Bersambung ke bagian 2 ...

Monday, July 6, 2015

D - 3 before The Interview

D-3. Wawancara tinggal 3 hari lagi. 

9 Juli 2015, pukul 9:00 WIB, semua akan dipertaruhkan. Apakah mimpi 10 tahun lalu itu bisa terwujud atau cuma jadi sekedar angan yang tak kesampaian. 

Well ... I'm really sucks at interview. 

Pertengahan September 2012 lalu, aku sempat dapat undangan dari sebuah organisasi (semacam konsorsium) dari beberapa universitas ternama di eropa, sebagai salah satu PhD candidate dalam proyek riset atmosfer di sana. Tahap pertama, presentasi di depan para Professor dan ilmuwan ternama berjalan lumayan lancar, lalu sampailah ke tahap wawancara. Selanjutnya bencana ... mulut seperti tidak bisa bicara, bahasa inggris yang tadinya lancar jadi amburadul ... gak jelas ngomong apa. Dan akhirnya bisa ditebak ... tidak lolos seleksi.

Sampai sekarang, kejadian itu masih jelas dalam ingatan. Entah apanya yang salah. Apakah kurang persiapan atau memang mentalku yang payah kalo wawancara. 

Jadi, untuk wawancara monbusho kali ini, aku akan habis-habisan. Ini bukan cuma soal studi dan riset, tapi juga masa depan keluarga. 

Ya Allah ... bila memang sudah jalan hamba untuk sekolah di Jepang, hamba mohon mudahkanlah ...

Robbishrohlii shodrii wayassirlii amrii wahlul uqdatammil lisaanii yafqohuu qoulii ... 

Ya Allah lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku dan lancarkanah lisanku agar mereka memahami perkataanku ... amiiin

Sunday, June 21, 2015

Cerita Monbukagakusho #3 - Ujian Tertulis

Ujian tertulis adalah tahap kedua dari seleksi beasiswa Monbusho setelah seleksi dokumen. Jumlah peserta yang berhak ikut ujian ini kurang lebih 100 orang, yang disaring dari sekian ratus (atau mungkin sekian ribu) calon peserta yang mendaftar beasiswa. Untuk program research student, materi yang diujikan adalah bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Masing-masing dalam waktu 1 dan 2 jam, yang dilakukan serentak di lima lokasi: Jakarta, Medan, Surabaya, Denpasar dan Makassar. Karena mendaftar di Jakarta, lokasi ujian saya ada di Auditorium Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, dan sebagai alumni UI, lokasi ujiannya sudah tidak asing lagi buat saya.

Seperti yang sudah disarankan oleh para 'alumni' peraih Monbusho, saya segera mengunduh soal-soal ujian tahun sebelumnya yang banyak bertebaran di internet, termasuk di website kedubes Jepang. Kalau diperhatikan pola soal ujiannya, test Bahasa Inggrisnya tidak jauh berbeda dengan test TOEFL PBT (Paper-based) atau ITP.  Untuk Bahasa Inggris, kayaknya nggak ada masalah. Setelah berlatih, rata-rata skor saya di atas 75 dalam skala 100.

Untuk Bahasa Jepang ? Entahlah. Kalau nggak salah, soal test Bahasa Jepang terbagi dalam 3 bagian, dasar, menengah dan tingkat lanjut. Saya cuma bisanya baca hiragana dan katakana. Itupun sedikit-sedikit. Untuk kanji saya sudah angkat tangan. Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari berbagai sumber, nilai yang tertinggilah yang akan dipertimbangkan dalam seleksi. Jadi kalau nilai test Bahasa Inggris lebih tinggi, maka nilai itu yang akan dipertimbangkan. Dengan demikian, peserta tidak harus mahir Bahasa Jepang untuk bisa lulus seleksi tertulis. Tentunya, kalau Bahasa Jepangnya bagus, akan jadi keuntungan untuk menambah peluang lulus.

----------

Tanggal 15 Juni 2015, hari ujian, dua hari sebelum puasa Ramadhan.

Saya datang ke lokasi ujian di UI dengan persiapan 100% untuk test Bahasa Inggris, dan 1% untuk test Bahasa Jepang. Strateginya jelas. Daripada menghabiskan waktu dan pikiran di tes Bahasa Jepang yang hasilnya belum tentu bagus, lebih baik saya fokus dan habis-habisan di tes Bahasa Inggris yang sudah yakin bisa saya kerjakan.

Saya datang 1 jam lebih cepat dari waktu ujian. Belum banyak orang di lokasi, jadi saya santai aja. 30 menit sebelum ujian, peserta mulai banyak berdatangan. Tampangnya serius semua, seperti samurai mau menuju medan perang. Salah satu peserta terlihat asyik membaca sebuah buku yang penuh tulisan Jepang dengan huruf "N2" warna orange di sampulnya. Bukunya sedikit diangkat supaya kelihatan, seolah ingin mengirimkan pesan ke peserta yang lain, kalau sang pemilik sudah mahir berbahasa Jepang. Andaikan waktu itu nggak ingat strategi untuk fokus di tes Bahasa Inggris, mungkin saya bakal ngelirik lagi buku "Belajar Mudah Bahasa Jepang" yang terselip dalam tas.

Lima belas menit sebelum pukul 10. Tiga gadis cantik tiba di depan auditorium. Dari penampilannya, kelihatannya ini staf kedubes Jepang yang akan jadi pengawas ujian. Benar saja, kami diminta antri di depan pintu dan menyiapkan tanda pengenal. Tiap peserta diminta memperlihatkan KTP dan menyebutkan nomor ujian, sebelum masuk ke auditorium.

Ruang ujiannya lumayan luas, mirip dengan ruang kelas di TVST/Oktagon ITB. Pengawas mengatur jarak masing-masing 1 kursi antar peserta. Saya mengambil posisi di deretan ketiga dari depan. Setelah semua peserta masuk, pengawas mulai menjelaskan tata tertib ujian. Peserta yang ingin ke toilet dipersilakan segera membereskan hajatnya, karena tidak ada yang boleh meninggalkan ruangan ketika ujian berlangsung dengan alasan apapun. Selain itu, jaket dan rompi diminta dibuka, tas diminta diletakkan di bawah kursi. Yang boleh ada di atas meja hanyalah alat tulis. Satu lagi, peserta diminta untuk mematikan ponsel dan alarm dalam bentuk apapun, termasuk alarm jam tangan. Apabila terdengar suara dari ponsel atau alarm ketika ujian, maka ujian akan langsung dihentikan. Selesai atau nggak selesai harus dikumpul. Aturan yang sangat menakutkan tapi efektif.

Soal dan lembar jawaban mulai dibagikan, dan tepat pukul 10 WIB, ujian dimulai serentak di seluruh Indonesia. Sesuai dugaan saya, soal Bahasa Inggrisnya polanya sama persis dengan ujian tahun-tahun sebelumnya. Karena sudah banyak latihan, saya bisa melalui test ini dengan relatif mudah. Satu jam kemudian, ujian selesai dan langsung disambung dengan test Bahasa Jepang. Kali ini, saya cuma nulis nama doang di lembar jawaban, liat-liat soalnya, terus bengong, soalnya nggak bisa ngerjain satupun. Ya sebenarnya ada lima soal tingkat dasar yang saya kerjakan, tapi itu juga ga tau benar atau salah. Selebihnya saya cuma bisa nunggu sampai waktu ujian selesai.

Dua jam pun terasa sangat lama, terlebih lagi AC dalam ruangan yang kelewat dingin. Pengawas ujian beberapa kali menyampaikan kalau AC-nya memang nggak bisa diatur karena AC sentral. Orang yang punya riwayat flu musiman atau yang lagi mules dijamin bakal tersiksa menahan hawa dingin selama dua jam di ruangan ini.

Setelah dua jam yang membosankan (karena saya nggak bisa ngapa-ngapain), akhirnya ujian selesai.  Sebelum lembar jawaban dikumpulkan, pengawas mewanti-wanti peserta ujian agar tidak mem-posting soal ujian hari itu ke media sosial, termasuk blog. Kalau sampai ketahuan, langsung nggak lulus !

Keluar dari ruangan ujian, saya bisa sedikit bernafas lega karena strategi fokus ke test Bahasa Inggris berjalan lancar. Sebenarnya, ada sedikit kekhawatiran karena saya ga bisa ngerjain tes Bahasa Jepang. Tapi ini yang terbaik, dari pada setengah-setengah. Sebelum pulang, saya sempatkan dulu jalan-jalan dulu ke FT UI, makan siang sekalian nostalgia di Kantek (Kantin Teknik). Ternyata Kantek sudah banyak berubah sejak terakhir saya kuliah di FT, jauh lebih rapi dan cozy dari pada sebelumnya. Saya pun pesan menu favorit zaman kuliah dulu, nasi goreng + kentang bego, sambil ngeliat-liat pemandangan di sisi danau Mahoni. 

Alhamdulillah ... ujian tertulis selesai.

---------------

Jumat, 19 Juni 2015.
Karena sedang puasa Ramadhan, saya langsung kembali ke kantor selepas sholat Jumat. Iseng saya browsing ke website kedubes Jepang, ternyata hasil ujian tertulis sudah diumumkan ! Pelan-pelan saya cek nomor-nomor ujian peserta yang lulus (pengumuman kelulusannya hanya mencantumkan nomor ujian), dan ...
Alhamdulillah !! Nomor 13, nomor ujian saya ada dalam daftar nomor peserta yang lulus !! Strategi fokus ke test Bahasa Inggris sukses besar !
Pengumuman tersebut juga memberikan informasi jadwal tes wawancara untuk tiap peserta. Saya kebagian tanggal 9 Juli 2015, jam 09 pagi.
Dua rintangan sudah terlewati. Semoga ujian berikutnya juga lancar. Amiin .... :-)

Wednesday, June 3, 2015

Gunpla #24 - RG Gundam GP01 Zephyranthes Review


Finally, posting about gunpla after months of hiatus.

GP01 a.k.a Zephyranthes, the protagonist mobile suit of Mobile Suit Gundam 0083 - Stardust Memory OVA. This mobile suit by far is my personal favorite, not just because of the design, but also the story surrounds it. At first glimpse, GP01 is similar to its predecessor, RX-78-2, with an extra twist of muscular looks, especially on the chest and feet. The color scheme is dominated by white, blue and red, with small portions of yellow, the typical gundam colors.


The kit is my fourth RG (after Justice, Freedom and MK-II AEUG), and it's received the same detail treatments as the other RG kits. I could just say that this kit is awesome. The appearance might be simple, but look at the handsome head, muscular chest and sexy feet, this is without a doubt, the best incarnation of GP01 ever produced. One of the special features of RG GP01 is the core fighter system that could be detached from the main body. However, that also means this kit has potential to become more fragile than normal RG. The connections of core fighter and chest section simply cannot withstand wide movements, hence the articulation is quite limited.



The kit came with a beam rifle, an extendable shield, two beam sabers and a special clear part for beam rifle effect. Aside from the articulated and 'standard' hands of RG, there's also an extra hand for the shield. And of course, you got lots of clear stickers for the kit, even though not as many as other RGs.  The were also several energy packs available for the beam rifle which could be stored on the backside of shield. Overall, the accessories are quite standard in terms of number and design.



As mentioned above, the articulation of this kit is hindered by the fragile connection of core fighter unit inside its chest. The 'unusual' connection also makes the arms become wobble and sometimes, they could not hold the rifle and shield tightly. However, it still could do some cool poses, even though the process could be frustating.



Overall, I love this kit and its simple appearance. The articulation and extra parts might not be the best compared to other RGs, but for me, this is one of my favorites .. EVER. I really recommend this kit for 0083 fans, especially the UC fanatics. Now, let's just wait the GP02 to be released as an RG, hence we could re-create the epic fights from the OVA in more detailed level :-D



-------------------------------

RX-78GP01 Gundam Zephyranthes

Pros :
  • Really cool and highly detailed design from 0083 OVA
  • Core fighter system that could be detached from the body
  • Stickers are forgivable (in terms of number LOL)
Cons :
  • Fragile connections between chest and core fighter
  • Limited articulation and posing options
  • Weak arm joints